JAKARTA, MEMO
– KoKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK)endapat dorongan kuat dari pakar hukum untuk segera menelusuri dugaan penggelembungan anggaran (mark-up) dalam proyek ambisius KeKereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB)yang kini dikenal sebagai Kereta Whoosh. Permintaan ini menguat setelah mantan Menko Polhukam, Mahfud Md, sebelumnya mengungkap adanya disparitas biaya yang fantastis.
Baca Juga: Status Naik Penyidikan, Kejari Jember Dalami Dugaan Korupsi Bank Jatim CP Kalisat
Pakar Hukum Pidana, Chairul Huda, mendorong KPK untuk melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam penyelidikan ini. Langkah ini dinilai krusial untuk menentukan secara pasti besaran kerugian negara yang ditimbulkan.
“Perlu melibatkan BPK. Harus dilakukan penyelidikan untuk membuktikan jumlah kerugian keuangan negara secara pasti,” ujar Chairul Huda, Rabu (5/11/2025).
Kenaikan Biaya Tiga Kali Lipat yang Mencurigakan
Isu dugaan mark-up ini mencuat setelah Mahfud Md, melalui kanal YouTube pribadinya pada 14 Oktober 2025, menyoroti perbedaan mencolok antara biaya yang dianggarkan di Indonesia dengan biaya standar di Tiongkok.
“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya kisaran 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” ungkap Mahfud.
Baca Juga: Layangkan Somasi!!! Begini Pernyataan LSM GAP Terkait Proyek Pembangunan Syeh Wasil Kota Kediri












