Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
NGANJUK

Istiqomah, Sejak 1885 Tradisi Nyadran Di Desa Waung Tetap Eksis Tidak Luntur Digerus Jaman

Mulyadi Memo
×

Istiqomah, Sejak 1885 Tradisi Nyadran Di Desa Waung Tetap Eksis Tidak Luntur Digerus Jaman

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Uri uri budaya ( tradisi ) adi luhung warisan leluhur adalah bagian dari falsafah dan naluri masyarakat Jawa yang tak bisa terpisahkan .

Salah satunya adalah tradisi bersih desa ( nyadran) yang lazim diadakan oleh masyarakat pedesaan tentunya di moment moment tertentu. Tepatnya pada saat setelah panen raya padi.

Baca Juga: Hari Pertama Pengurukan, Dump Truck Nggoling Di Lokasi Garapan Milik PT Sreya Sewu Indonesia,Ini Penyebabnya..

Dari berkah rejeki ( panen ,red) tersebut, masyarakat Jawa mengimplementasikan rasa syukurnya kepada Tuhan YME dengan cara adat Jawa yaitu berupa sedekah bumi atau nyadran. Lebih populernya disebut bersih desa.

Baca Juga: Sekda Nur Solekan Terima Berkas Pandangan Umum 7 Fraksi Di Paripurna DPRD Nganjuk, F PDIP Evaluasi Optimalisasi Pendapatan Dasrah

Hanya saja, prosesi nyadran jaman now dengan nyadran tempo dulu bisa dibilang sangat jauh berbeda. Perbedaanya terletak pada formula kegiatannya.

Baca Juga: Puguh Hernanto : Pawai Boyong Hambangun Projo Sarana Edukasi Sejarah Untuk Generasi Melinial

Artinya, kalau nyadran tempo dulu cukup mengedepankan ritualnya saja. Namun kalau nyadran era milineal seperti saat ini tergolong lebih meriah. Karena diisi dengan beragam kegiatan baik berupa pertunjukan tradisional maupun kegiatan keagamaan.

Seperti acara nyadran yang digelar di Desa Waung Kecamatan Baron, Nganjuk pada hari ini ( Jumat, 15/05/2026). Pihak panitia bersama Pemdes setempat menyajikan beragam kegiatan mulai kirim doa ( tahlil) di punden Sumur Gede, kirab budaya, jaranan , tayub, karnaval, pawai budaya, bazar dan cek sound miniatur dan acara sholawatan.

” Kegiatan tahunan seperti ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita kenikmatan selama ini. Semoga dengan ungkapan rasa syukur ini ditambah kenikmatan oleh Alloh SWT t Tuhan pencipta alam semesta,” ujar Kepala Desa Waung ,M.Doni Rudianto hari ini ( Jumat,15/05/2026).

Menariknya lagi, menurut catatan sejarah Pemerintahan Desa Waung bahwa agenda nyadran seperti ini ternyata sudah ada sejak tahun 1885 silam. Atau sejak dipimpin oleh kepala desa pertama kali yaitu Mbah Sarigo periode 1885 – 1900.

Dengan bertahannya tradisi nyadran sampai saat ini masih kata kades muda yang memiliki jiwa inovatif di sektor pembangunan desa sekaligus pelopor predikat Desa Waung menjadi Desa Bersinar ( Bebas Narkoba ) karena dianggap kegiatan nyadran selain sebagai sarana edukasi untuk generasi melinial, juga sebagai alat kerukunan warga.

” Harapannya semoga para generasi melinial bisa menjaga dan uri uri budaya pribumi,” pungkasnya. ( Adi )