Example floating
Example floating
NGANJUK

Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Mengenang Kembali Perjuangan Terakhir Marsinah bagi Kaum Buruh

A. Daroini
×

Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Mengenang Kembali Perjuangan Terakhir Marsinah bagi Kaum Buruh

Sebarkan artikel ini
Mengenang Kembali Perjuangan Terakhir Marsinah bagi Kaum Buruh

Nganjuk, Memo

Tiga puluh dua tahun pasca-kematiannya, nama Marsinah kembali bergaung di panggung nasional. Tokoh buruh perempuan legendaris tersebut kini resmi diusulkan untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional. Usulan ini disuarakan oleh elemen buruh dalam aksi memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) di Jakarta.

Baca Juga: Istiqomah, Sejak 1885 Tradisi Nyadran Di Desa Waung Tetap Eksis Tidak Luntur Digerus Jaman

Merespons aspirasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh usulan pemberian gelar kehormatan bagi sang pejuang buruh.

Marsinah merupakan seorang buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, yang kini menjadi simbol abadi perlawanan dan perjuangan kaum pekerja di Indonesia. Semasa hidupnya, ia bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji (jam tangan) yang berlokasi di Porong, Sidoarjo.

Baca Juga: Kasus Hamil Di Luar Nikah Di Kalangan Pelajar Di Nganjuk Melonjak, Apa Penyebabnya, Ini Penjelasan Tanti Niswatin .....

Di samping rutinitasnya sebagai pekerja pabrik, Marsinah dikenal sebagai sosok yang sangat vokal dalam menyuarakan hak-hak pekerja. Keaktifannya itu ia salurkan melalui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Titik balik perjuangan Marsinah terjadi pada 4 Mei 1993. Kala itu, ia memimpin aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya demi menuntut kenaikan upah buruh, dari yang semula Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari.

Baca Juga: Dari Tarian Matahari Suku Indian Sampai Pesan Politik 2027 Untuk SDP, Lanjutkan !!!!

Namun, keberaniannya menuntut kesejahteraan itu harus dibayar mahal. Pada malam hari tanggal 5 Mei 1993, Marsinah diculik oleh orang tak dikenal. Setelah empat hari menghilang tanpa kabar, ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah gubuk di wilayah Nganjuk, Jawa Timur.

Berdasarkan hasil visum tim medis, Marsinah mengalami penyiksaan yang sangat berat sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Muncul pula dugaan bahwa ia menjadi korban kekerasan seksual sebelum akhirnya tewas akibat luka tembakan senjata api.

Tragedi pembunuhan Marsinah sontak memicu gelombang reaksi keras serta kecaman luas dari masyarakat, aktivis HAM, hingga organisasi buruh internasional. Sejak saat itu, sosoknya bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang dialami oleh kaum buruh di Indonesia.

Meski raganya telah dibungkam secara paksa puluhan tahun silam, semangat keberanian Marsinah terbukti tidak pernah padam. Usulan gelar Pahlawan Nasional ini menjadi momentum penting untuk merawat ingatan publik sekaligus menumbuhkan harapan baru bagi penegakan hak-hak pekerja di masa depan.