Blitar, memo.co.id
Rencana Pemerintah Kota Blitar untuk kembali merombak Pasar Legi justru memantik gelombang kritik. Bukan tanpa alasan, pasar yang sudah berkali-kali dipoles itu tetap saja sepi bagai bangunan tak berpenghuni.
Baca Juga: SPPG Sananwetan Beri Klarifikasi, Menu Makanan Disesuaikan Permintaan Sekolah
Susilo, aktivis dari LSM Forum Masyarakat Anti Korupsi (Formak), menilai proyek revitalisasi kali ini tak lebih dari upaya mempercantik bangunan tanpa menyentuh akar persoalan.
“Percuma bangunan kinclong kalau pedagangnya tetap merana. Sudah berapa kali pasar ini dibedah, hasilnya nihil. Aktivitas tetap jeblok, pengunjung tak kunjung kembali,” tegasnya saat ditemui memo.co.id di area Pasar Legi, Senin (17/11/2025).
Baca Juga: Akhirnya Terungkap! Ini Dalang di Balik Menu MBG yang Amburadul di Kota Blitar?
Pasar Legi memang menyimpan sejarah panjang kesuraman. Kebakaran besar 2016 membuat hampir seribu pedagang tercerabut mata pencahariannya. Bahkan jauh sebelumnya, sejak terminal angkot di samping pasar dipindah pada 1998, denyut ekonomi pasar perlahan mati.
“Sejak terminal hengkang, perlahan pasar ikut sekarat. Pemerintah tahu, tapi seolah pura-pura buta,” sindir Susilo.
Baca Juga: Lahan KHDPK Dirusak Mafia Tebu, Potensi Kerugian Negara Menembus Ratusan Miliar
Meski begitu, Pemkot Blitar kembali melempar wacana—membuat pasar kreatif lengkap dengan wahana promosi produk lokal, street food, hingga ruang terbuka bagi PKL. Susilo menilai ide itu menarik, tetapi hanya akan jadi jargon tanpa keberanian mengeksekusi secara nyata.












