“Kalau mau menghidupkan pasar, jangan setengah hati. Pak Wali harus bicara gamblang soal visi, jangan cuma seremonial gunting pita,” ketusnya.
Ia bahkan mengusulkan lantai 2 Pasar Legi disulap menjadi pusat kuliner, ditambah coffee shop dan panggung kecil untuk musisi jalanan setiap akhir pekan.
Baca Juga: PJT I Jadwalkan Flushing Wlingi-Lodoyo Mulai 18 Mei 2026, Warga Diminta Jauhi Sungai Brantas
“Biarkan ada alasan orang datang. Kalau cuma kios-kios kosong, ya siapa yang mau naik?” katanya.
Masalah terbesar kini justru datang dari pedagang itu sendiri. Banyak yang enggan membuka kios karena merasa pasar tak punya daya tarik lagi. Alhasil, bangunan baru hanya jadi monumen mahal tanpa aktivitas.
Baca Juga: Dugaan Pelecehan Seksual di Kampus, BPP UNU Blitar Akhirnya Nonaktifkan Dosen
“Kalau pedagang ogah buka lapak, ya pemerintah jangan cuma marah-marah. Beri subsidi, retribusi digratiskan dulu, bantu permodalan. Baru adil. Jangan sampai pedagang disuruh bangkit tapi tidak diberi tongkat,” tambah Susilo.
Ia menutup dengan kritik telak:
Baca Juga: MAKI Ingatkan Pentingnya Clean Governance dalam Pemilihan Ketua KONI Blitar
“Pasar ini bukan mati karena bangunan jelek, tapi karena kebijakan yang tak pernah menyasar kebutuhan pelaku ekonomi di dalamnya.”**












