“Kalau mau menghidupkan pasar, jangan setengah hati. Pak Wali harus bicara gamblang soal visi, jangan cuma seremonial gunting pita,” ketusnya.
Ia bahkan mengusulkan lantai 2 Pasar Legi disulap menjadi pusat kuliner, ditambah coffee shop dan panggung kecil untuk musisi jalanan setiap akhir pekan.
Baca Juga: Jatmiko Pastikan Jaga Jarak dari Kekuasaan: “Saya Tidak Manfaatkan Posisi Keluarga”
“Biarkan ada alasan orang datang. Kalau cuma kios-kios kosong, ya siapa yang mau naik?” katanya.
Masalah terbesar kini justru datang dari pedagang itu sendiri. Banyak yang enggan membuka kios karena merasa pasar tak punya daya tarik lagi. Alhasil, bangunan baru hanya jadi monumen mahal tanpa aktivitas.
Baca Juga: PKK Rejotangan Dorong Ketahanan Keluarga, Soroti Lonjakan Perceraian di Tulungagung
“Kalau pedagang ogah buka lapak, ya pemerintah jangan cuma marah-marah. Beri subsidi, retribusi digratiskan dulu, bantu permodalan. Baru adil. Jangan sampai pedagang disuruh bangkit tapi tidak diberi tongkat,” tambah Susilo.
Ia menutup dengan kritik telak:
Baca Juga: Mantan Wabup Blitar Jadi Korban Penipuan, Terpidana Mulia Wiryanto jadi Buron
“Pasar ini bukan mati karena bangunan jelek, tapi karena kebijakan yang tak pernah menyasar kebutuhan pelaku ekonomi di dalamnya.”**












