NGANJUK , MEMO – Pawai budaya Boyong Hambangun Projo dan Sedekah Bumi Nganjuk yang digelar pada Sabtu ( 6/06/2026) berjalan meriah. Forpimda, seluruh jajaran OPD sampai Komonitas Sepeda Tua Indonesia ( Kosti) tampil elegan dengan mengenakan busana kejawen.
Puluhan kereta kuda kuno hias yang diberangkatkan dari alun alun Brebek menuju pendopo Kabupaten Nganjuk memukau masyarakat.
Tampak Bupati dan wakil bupati berada di barisan terdepan. Diikuti rombongan kepala dinas, badan dan sekertariat daerah serta kecamatan menyapa penonton sembari bagi bagi Snack.

Seperti halnya Kepala Dinas Pendidikan ( Kadisdik ) Nganjuk, Puguh Hernanto dengan mengenakan busana Jawa kuno sarimbitan bersama istri tercinta tampak tampil beda seperti sosok tokoh Jawa ” Angkling Darmo “.
Di sepanjang perjalanan pawai , mantan Kadis PMD ini tidak lelah melempar senyum dan melambaikan tanganya dari atas kereta kuda. Tidak hanya itu saja, Kadis muda berwibawa dan smart ini juga bagi bagi Snack ke penonton.
Saat ditanya wartawan memo co.id usai acara menjelaskan bahwa agenda ini digelar untuk memperingati perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk pada 6 Juni 1880.

Selain menjadi agenda budaya, kirab ini mengandung pesan sejarah tentang lahirnya Kabupaten Nganjuk modern. Dari sudut pandang dunia pendidikan diungkapkan Puguh Hernanto adalah moment edukasi sejarah khususnya untuk generasi melinial.
“Dulu sebelum tahun 1830 wilayah yang sekarang jadi Kabupaten Nganjuk ini, pernah terbagi menjadi empat kadipaten, yaitu Kadipaten Berbek, Pace, Nganjuk, dan Kertosono. Setelah itu keempatnya melebur menjadi satu menjadi Kabupaten Berbek,” ujar Puguh Hernanto.

Ditanya harapan, Puguh Hernanto berpesan kepada para tenaga pendidik untuk memberikan dan mentransfer informasi kepada anak didiknya seputar sejarah daerah.
” Tidak hanya mengexplore sejarah budaya boyong Projo saja, namun sejarah lainya di Kabupaten Nganjuk mohon untuk diinformasikan ke peserta didik,” paparnya.
Masih kata Puguh Hernanto, tidak hanya sebatas membaca sejarah saja, namun bagaimana para anak didik bisa tahu persis bukti bukti sejarahnya.

Seperti dua pusaka yang diboyong dari Brebek ke pendopo kabupaten , serta bangunan bekas pusat pemerintahan kabupaten yang waktu itu ada di Brebek dimohon para guru bisa mendampingi para anak didik mengenalkan perjalanan sejarah Nganjuk.
” Dengan agenda tahunan ini semoga tetap terjaga sampai kapanpun ,karena ini bagian dari bukti perjuangan para tokoh birokrasi terdahulu dalam rangka menata roda pemerintahan yang bisa dinikmati masyarakat sampai sekarang,” pungkasnya. ( Adi )
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












