Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Trenggalek

Sumur Dalam Kering Kerontang Pasokan Air Bersih Terus Dipasok ke Sambirejo Trenggalek

A. Daroini
×

Sumur Dalam Kering Kerontang Pasokan Air Bersih Terus Dipasok ke Sambirejo Trenggalek

Sebarkan artikel ini
Sumur Dalam Kering Kerontang Pasokan Air Bersih Terus Dipasok ke Sambirejo Trenggalek

MEMO, Trenggalek — Penyusutan debit air tanah yang ekstrem memaksa 60 kepala keluarga di Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek, gigit jari setelah sumur gali sedalam 20 meter milik warga mengering total sejak pertengahan Agustus 2026.

Kondisi kritis akibat kemarau panjang ini menyerang permukiman warga di RT 9, RT 14, dan RT 15, hingga membuat Pemerintah Desa Sambirejo rutin meminta kiriman armada tangki air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek demi memenuhi kebutuhan harian warga.

Ancaman Tahunan dan Keterbatasan Armada Tangki

Krisis ketersediaan air minum dan MCK di kawasan tersebut bukanlah fenomena baru, melainkan ancaman berulang setiap kali musim kemarau datang. Bedanya, tahun ini dampaknya meluas hingga menggulung habis pasokan air pada sumur-sumur manual.

Kepala Desa Sambirejo, Karyanto Kartolo, membeberkan bahwa penurunan debit air mulai menggejala pada awal Agustus, sebelum akhirnya memuncak dan benar-benar habis di pertengahan bulan.

“Rata-rata sumur manual dengan kedalaman 20 meter sudah tidak ada airnya sama sekali. Yang bertahan hanya sumur bor,” kata Karyanto saat mengawasi distribusi air bersih.

Hingga saat ini, pihak desa tercatat telah melayangkan lima kali permohonan pasokan darurat ke BPBD. Walau mengajukan jatah 10.000 liter setiap kali kirim, keterbatasan kapasitas truk tangki membuat warga hanya bisa menerima porsi pasokan sebesar 6.000 liter per pengiriman.

Warga Tampung Air di Tandon dan Galon

Guna menampung kucuran air bersih dari petugas, warga berbondong-bondong menyiapkan ember, galon, hingga bak darurat di halaman rumah. Bantuan ini menjadi penolong utama di tengah cuaca terik yang belum menunjukkan tanda-tanda bakal turun hujan.

Siti Muawanah (38), salah satu warga RT 14/RW 05, mengaku lega meski pasokan yang ada harus dihemat sedemikian rupa. Satu tandon penampungan yang dipakai bersama dengan tetangga sebelahnya hanya cukup bertahan selama kurun waktu seminggu.

“Rasanya senang sekali ada bantuan datang. Sumber air di rumah sudah menipis sejak pertengahan Agustus, terutama untuk mencuci dan memasak,” tutur Siti.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang agar krisis tidak makin mengimpit warga, Pemdes Sambirejo berencana menambah titik-titik tandon komunal di lokasi terdampak sambil terus berkoordinasi secara kondisional dengan pihak BPBD Trenggalek.