Acara tersebut berlangsung khusyuk dan terkesan guyub rukun. Pada akhir acara setelah pembacaan doa oleh tokoh agama setempat, para warga mendapatkan berkat ( nasi kenduri ) yang dibagikan secara merata.
” Kegiatan ini memasuki tahun ke dua, semoga bisa langgeng sampai kapanpun. Karena kegiatan ini mengandung nilai sosial tinggi,” terang Ketua RW 02 Desa Jogomerto, Sudarminto.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah, Begini Tanggapan Ketua DPD LDII Nganjuk.......

Nilai sosial yang dimaksud ditambahkan Sudariyono selaku pamong blok RW 02 yaitu sebagai sarana mempererat tali silahturahmi antar warga dan lingkungan di tingkat RW dan RT.
Baca Juga: Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Mengenang Kembali Perjuangan Terakhir Marsinah bagi Kaum Buruh
” Tradisi warisan ini juga bertujuan memberikan edukasi kepada generasi melinial agar mengenali kekayaan budaya Adi luhung. Ini bagian dari budaya kearifan lokal yang patut dijaga dan di uri uri,” tutur Sudariyono usai acara.

Baca Juga: Istiqomah, Sejak 1885 Tradisi Nyadran Di Desa Waung Tetap Eksis Tidak Luntur Digerus Jaman
Hal senada disampaikan pengamat budaya Nganjuk,Aris Trio Efendi menegaskan bahwa istilah Barikan /Baritan berasal dari bahasa Arab yaitu barokah yang berarti berkah.
Sementara dalam kamus bahasa Jawa, ” Barikan” memiliki arti perayaan atau makan bersama di tempat terbuka. Yang pasti tradisi ini dikaitkan dengan menyambut tahun baru Hijriyah atau 1 Suro dalam kalender Jawa.

Dalam tradisi ini masih kata Aris Trio adalah satu kesatuan sudut pandang antara agama dan budaya tak bisa terpisahkan. Artinya memiliki niat dan tujuan yang sama.
” Yaitu berkumpul dan berdoa bersama memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan,kesehatan serta dilapangkan rejeki serta keberkahan dalam menjalani hidup sehari hari,” pungkasnya. ( Adi )












