Meskipun layanan kesehatan sudah memadai—hampir semua rumah sakit dan puskesmas telah membuka layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS, serta pengobatan TB dan Malaria—tantangan besar masih menghadang, yaitu stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Kota Kediri. Stigma ini membuat belum semua ODHIV yang terdeteksi bersedia memulai pengobatan ARV.
“Sudah hampir semua rumah sakit di Kota Kediri ada layanan pengobatan HIV/AIDS. Sehingga jika ada temuan penderita yang positif bisa langsung ditindaklanjuti dan kita ajak melakukan pengobatan,” tambah dr. Fajri.
Baca Juga: Jaksa Tuntut Sutrisno Sembilan Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp3,5 Miliar
Untuk menjawab tantangan ini, Dinkes telah merancang strategi penanganan yang komprehensif. Fokus utamanya adalah kolaborasi dan pembangunan jejaring dengan komunitas serta kader kesehatan.
Dr. Fajri berharap, pertemuan ini menjadi pemicu motivasi untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Dengan semangat persatuan dan kepedulian, eliminasi penyakit ATM di Kota Kediri pada tahun 2030 diyakini dapat terwujud, menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari diskriminasi.












