Example floating
Example floating
BLITAR

Jembatan Mangkrak Berbulan-bulan, Pemkot Blitar Dinilai Abai: Akses Pendidikan dan Ekonomi Warga Dikorbankan

Prawoto Sadewo
×

Jembatan Mangkrak Berbulan-bulan, Pemkot Blitar Dinilai Abai: Akses Pendidikan dan Ekonomi Warga Dikorbankan

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo.co.id

Sebuah ironi terpampang nyata di jantung Kota Blitar. Di tengah geliat pembangunan yang kerap digaungkan, jembatan di Jalan Gotong Royong, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan justru dibiarkan mangkrak berbulan-bulan tanpa kepastian, Jumat 1 Mei 2026.

Baca Juga: Dorong Kebijakan Pro Rakyat, Pansus Minta RSUD Mardi Waluyo Segera Realisasikan Parkir Gratis Secara Menyeluruh

Jembatan itu bukan sekadar beton dan besi. Ia adalah nadi penghubung aktivitas warga, jalur utama pelajar menuju sekolah, dan denyut ekonomi masyarakat sekitar. Namun kini, nadi itu seperti sengaja diputus perlahan, tanpa rasa bersalah.

Penutupan total akses jalan membuat warga harus memutar jauh. Para siswa menuju SMK Telkom Brawijaya Kampus 4 dan Kampus Putra Sang Fajar kehilangan jalur tercepat mereka. Waktu terbuang, tenaga terkuras, dan keterlambatan menjadi rutinitas baru.

Baca Juga: KA Dhoho Vs Truk Pasir: Tabrakan Keras Gegerkan Warga Gedog Blitar

“Warga bayar pajak, tapi fasilitas dibiarkan rusak. Ini ditutup saja tanpa kejelasan dibangun kapan,” keluh seorang warga Bendogerit dengan nada getir.

Keluhan itu bukan sekadar emosi sesaat. Ada kegelisahan yang mengendap. Aktivitas ekonomi warga terganggu, omzet pedagang menurun, dan akses pendidikan terhambat. Namun respons pemerintah kota justru terasa dingin seolah masalah ini bukan prioritas.

Baca Juga: Instruksi Megawati Ditegaskan di Blitar, Kader Diminta Turun Langsung Rangkul Generasi Muda

“Jangan-jangan nunggu ambrol total dulu, ada korban dulu, baru dibangun?” sindir warga lain.

Nada serupa datang dari kalangan pelajar. Mereka merasakan langsung dampak dari lambannya penanganan.

“Walikota dan dewan seperti tutup mata. Jembatan saja tidak bisa diatasi, lalu untuk apa ada pemerintah?” ujar seorang siswa dengan nada kesal.

Fakta di lapangan menunjukkan, kerusakan jembatan memang membahayakan. Retakan pada penyangga dan kondisi yang mulai longsor akibat kikisan air hujan membuatnya tak layak dilalui. Penutupan adalah langkah tepat namun tanpa tindak lanjut, itu berubah menjadi pembiaran.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas PUPR Kota Blitar, Erna Santi, mengakui kondisi tersebut.

“Longsor itu sedikit demi sedikit saat beberapa kali hujan lebat,” ujarnya.