NGANJUK, MEMO – Gelombang protes pembangunan wisata Watu Lawang Ngliman ,Sawahan ,Nganjuk terus bergerak. Tidak hanya protes soal ijin dan dampak kerusakan lingkungan hutan saja, namun kini muncul protes baru yang agak unik.Apa itu ?.
Ini sekilas perspektif atau sudut pandang kelompok pelaku spiritual di Kabupaten Nganjuk menyoal tentang kesakralan air terjun Sedudo akan luntur ketika harus terkontaminasi dengan wisata modern watu lawang.
Kata kata luntur dan terkontaminasi atas konsep wisata moderen watu lawang tampaknya jadi PR besar bagi kaum spiritual lintas aliran. Mulai dari kelompok penghayat kepercayaan sampai kaum religius muslim merajut harapan tolak pembangunan wisata watu lawang.

Ditanya wartawan kenapa kesakralan Sedudo bisa luntur ?. Dari analisa mereka ( pelaku spiritual,red) , ada dua faktor penyebab . Yaitu karena jarak antara watu lawang dengan air terjun Sedudo terlalu dekat juga masalah konsep wisatanya utang berubah jadi wisata konvensional.
” Suasana keheningan gunung wilis akan hilang. Dari situ harmonisasi alam benar benar tersandera. Boleh bicara PAD tapi jangan korbankan estetika alam dan ekosistemnya,” terang Mbah Sigit atau akrap disapa Mbah Ngliman salah satu pecinta pelestari kesakralan air terjun Sedudo .
Untuk diketahui , kegiatan ritual di bulan suro area wisata air terjun Sedudo sudah jadi icon nasional bahkan internasional.
Tidak bisa dipungkiri, setiap bulan purnama tanggal 15 kalender Jawa di bulan suro wisata air terjun Sedudo akan ramai dikunjungi wisatawan domestik dan asing.

Sesuai mitos , di penanggalan Jawa tersebut dianggap oleh para wisatawan merupakan hari sakral yang bisa mendatangkan berkah jika bisa mengambil atau mandi di bawah air terjun Sedudo. Bisa untuk sarana pengobatan dan bisa bikin awet muda.
” Percaya atau tidak percaya tapi tradisi itu diyakini oleh khalayak ramai bahwa kesakralan alam air terjun Sedudo tidak bisa terbantahkan. Adalah tradisi turun temurun dan sudah menjadi identitas tertinggi bagi pemerintah daerah kabupaten Nganjuk tolong jangan dinodai dengan hadirnya wisata konvensional watu lawang,” harapan Mbah Sigit. (Adi)












