Ia juga mengkritik kebijakan studi tur yang menurutnya hanya menjadi ajang pemerasan terhadap orang tua siswa. “Hari ini bikin grup ekstra kelas, bikin seragam, bikin motornya sama. Setelah itu bikin iuran. Setelah itu bikin memori memorinya dalam buku foto di foto yang dibuat dalam album harganya Rp300.000 sampai Rp500.000 untuk sebuah memori memori penuh kepalsuan yang melahirkan penderitaan bagi ibu dan ayah,” ungkapnya.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya membangun hubungan emosional antara guru dan murid, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. “Manusia yang bermemori adalah manusia yang tidak mau meninggalkan ruang kelasnya. Karena ruang kelas itu adalah ruang spiritualitas, ruang pendalaman,” jelasnya.
Baca Juga: 24.000 Tamtama Baru di TNI, Dikritik Keras Politisi PDI Perjuangan
Ia juga menyoroti pentingnya peran intuisi dalam kepemimpinan. “Saya hari ini bekerja itu dengan intuisi. Saya tidak mau saya dijadwal oleh bagian protokol. Mau saya kenapa? Karena alam ini berubah dalam setiap hari. Saya harus subuh itu harus sudah bisa membaca pagi ini apa ya?” ujarnya.
Dedi Mulyadi mengajak para kepala sekolah untuk mengubah pola pikir dan tidak lagi “membodohi murid.” Ia menginginkan murid-murid Jawa Barat yang “cageur, bageur, benar, pintar, singer.” “Jadi kita nih jangan dibiasakan hari ini kalau anak kita mengalami kesulitan, semua orang turun untuk menyelesaikan. Jangan. Biarkan kesulitan itu diselesaikan oleh dirinya sendiri,” pungkasnya.
Baca Juga: Jejak "Para Jendral" di Balik Penyelundupan di Bea Cukai, Ini Peringatan Keras Eks Kepala PPATK












