Trenggalek, Memo – Di tengah serbuan pernak-pernik rumah tangga serba modern, pesona gerabah dan peralatan dapur tradisional seperti cobek, kuali tanah liat, hingga gelas tembikar ternyata masih memiliki daya pikat tersendiri. Buktinya, di Pasar Tradisional Trenggalek, komoditas klasik ini tetap eksis dan bahkan laris manis di antara hiruk pikuk perdagangan modern.
Di jantung Pasar Basah Trenggalek, seorang wanita bernama Sugiarti (56) dengan setia membuka gerainya yang cukup luas, memajang aneka ragam gerabah dan perabot rumah tangga tradisional. Tak tanggung-tanggung, delapan petak kios menjadi etalase bagi koleksi gerabah dan perabot rumah tangga berbahan alami miliknya.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
“Menggeluti bisnis gerabah sejak tahun 1982, alhamdulillah, rezeki dari sini mampu membesarkan ketiga buah hati saya hingga dewasa. Sampai detik ini, lapak saya di sini tak pernah sepi pembeli,” ungkap Sugiarti dengan nada syukur.
Wanita yang berasal dari Dusun Ceme, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan ini, awalnya menjajakan dagangannya di Pasar Pon Trenggalek. Namun, seiring dengan wajah baru Pasar Pon yang lebih modern, ia memilih hijrah ke Pasar Basah yang dinilai memiliki arus pengunjung yang lebih ramai dan potensial.
Baca Juga: KPK Selidiki Asal Muasal Uang Setoran Belasan Kepala Dinas Untuk Bupati Tulungagung
Sugiarti berkisah, berkat kegigihannya berdagang perabot dan gerabah tradisional, ia berhasil mengantarkan ketiga anaknya hingga meraih gelar sarjana di bangku perkuliahan. Ia menegaskan bahwa pundi-pundi rupiah yang dihasilkan dari berjualan gerabah mampu menopang biaya pendidikan anak-anaknya hingga saat ini.












