“Anak bungsu saya sekarang masih menimba ilmu di semester dua Universitas Airlangga. Ya, puji Tuhan, sampai sekarang berjualan gerabah tetap menjadi sumber penghasilan utama keluarga saya,” jelasnya dengan penuh keyakinan.
Sugiarti menambahkan, keputusannya untuk fokus pada penjualan gerabah didasari oleh keyakinannya akan keawetan dan daya tahan komoditas ini, berbeda dengan jenis dagangan lain yang mudah mengalami perubahan tren. Selain gerabah, ia juga menyediakan beragam perabot rumah tangga tradisional berbahan dasar bambu, seperti kalo (tempat nasi), irik (tampah bambu), besek (wadah anyaman bambu), tompo (alas duduk dari bambu), dan berbagai produk anyaman bambu lainnya.
Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele
“Saking melekatnya saya dengan dagangan perabot tradisional ini, sampai-sampai saya mendapat julukan ‘Sugiarti Besek’ dari sesama pedagang pasar,” terangnya sambil tersenyum.
Lebih lanjut, Sugiarti mengungkapkan bahwa pasokan dagangannya diperoleh dari luar wilayah Trenggalek yang dikirimkan langsung ke rumahnya maupun ke lapaknya di Pasar Basah. Ia juga bercerita bahwa dirinya masih memiliki lapak di Pasar Pon, namun kini dipercayakan kepada adiknya untuk berjualan gerabah, meskipun sang adik kerap mengeluhkan sepinya pembeli di sana.
Baca Juga: KPK Selidiki Asal Muasal Uang Setoran Belasan Kepala Dinas Untuk Bupati Tulungagung
“Kalau ditanya total nilai dagangan saya, mungkin kalau dihitung saat ini ya sekitar belasan juta rupiah,” pungkasnya, menggambarkan betapa eksisnya bisnis gerabah dan perabot tradisional di tengah gempuran modernitas.












