Kasat Reskrim tersebut menjelaskan, sebelum meninggal ia dijaga kakak dan 3 orang teman kampusnya. Mereka menjaga dan menenangkan Fabianus yang terus memberotak tanpa henti. “Dia dijaga kakak dan 3 orang temannya karena terus berontak. Setelah mulai tenang, mereka yang sudah letih tertidur dan ketika sadar Fabianus sudah meninggal,” jelas Lalu Musti Ali.
Dari pengamatan fisik, tidak adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Namun, kata Lalu, pihaknya tidak bisa menjelaskan secara detail karena keluarga tidak mau jenazah korban divisum maupun diautopsi.
Baca Juga: KPK Geledah Rumah Gatut Sunu di Surabaya dan Sita Uang Puluhan Juta Rupiah
Hal itu pun dibenarkan oleh kakak kandung korban, Gaudensiana Abuk Bere, menuturkan korban meninggal pada Rabu, 5 April 2017, sekitar pukul 19.00 Wita, mengalami kesurupan dan sempat mengamuk dan membantingkan diri ke lantai kamar kos.
“Sepanjang malam korban terus berontak dan terus melawan. Saat kesurupan, saya bersama teman menjaga dia,” ujar Gaudensiana saat dikonfirmasi wartawan.
Baca Juga: KPK Geledah Ruang Kerja Bupati Tulungagung Cari Bukti Tambahan Kasus Pemerasan OPD
Keluarga menyatakan ikhlas menerima kematian Fabianus. Maka itu, setelah dibawa ke rumah sakit, jenazah dibawa ke kampung halaman, Dusun Webora, Desa Alas, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka. ( ed )












