Example floating
Example floating
BLITAR

Geliat Pasar Tradisional Menurun, Pemkot Blitar Dorong Transformasi

Prawoto Sadewo
×

Geliat Pasar Tradisional Menurun, Pemkot Blitar Dorong Transformasi

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo.co.id

Pasca pandemi COVID-19, perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional. Masyarakat kini semakin terbiasa bertransaksi secara digital (online) yang dinilai lebih praktis dan terkadang lebih murah tanpa harus bertemu langsung dengan penjual.

Baca Juga: DPR RI Endro Hermono Bersama Bupati dan Wakil Bupati Blitar Kunjungi Bulog Dan Pabrik Pembenihan Jagung 

Dampak tersebut turut dirasakan di sejumlah pasar tradisional di Kota Blitar yang mengalami penurunan jumlah pengunjung. Sepinya pasar dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kualitas barang dagangan, kepastian harga, hingga persoalan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan. Selain itu, keterbatasan metode pembayaran digital seperti QRIS, OVO, dan DANA juga menjadi kendala tersendiri di tengah tren transaksi non-tunai.

Meski demikian, tidak semua pasar tradisional mengalami penurunan aktivitas secara menyeluruh. Pada waktu-waktu tertentu, beberapa pasar masih menunjukkan geliat ekonomi yang cukup tinggi.

Baca Juga: Efisiensi Tinggal Narasi, Panggung Megah HUT Kota Blitar Justru Picu Sorotan

Di Pasar Templek misalnya, aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai pada dini hari. Mulai pukul 02.00 hingga menjelang subuh sekitar pukul 04.30 WIB, para bakul ethek terlihat memadati pasar untuk berbelanja secara grosir. Bahkan sejak pukul 01.00 dini hari, pedagang sayur mayur dan hortikultura dari wilayah Pujon, Malang, dan sekitarnya sudah mulai berdatangan untuk memasok barang dagangan.

Sementara itu, Pasar Legi menunjukkan keramaian pada pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, kemudian kembali ramai pada sore hari antara pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, khususnya di area kios sisi selatan dan sepanjang Jalan Mayang yang menjadi pusat transaksi grosiran.

Baca Juga: Dari Santunan hingga 10 Ribu Porsi Sarapan, Guntur Wahono Soroti Kekuatan Gotong Royong

Hal serupa juga terjadi di Pasar Pon, yang ramai dikunjungi para pedagang keliling atau bakul ethek pada pukul 03.30 hingga 05.30 WIB untuk berbelanja kebutuhan dagangan.

Untuk menjaga dan meningkatkan kembali aktivitas ekonomi di pasar tradisional, dibutuhkan peran kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah daerah melalui dinas terkait saat ini tengah menyiapkan program revitalisasi pasar, termasuk Pasar Legi, Pasar Kuliner, dan Pasar Pahing.