Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto, mengatakan bahwa revitalisasi tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga pembenahan sistem dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
“Kami tidak hanya fokus pada perbaikan bangunan pasar, tetapi juga bagaimana pasar tradisional bisa lebih bersih, aman, nyaman, dan mampu mengikuti kebutuhan masyarakat saat ini, termasuk digitalisasi transaksi,” ujar Parminto.
Ia menambahkan, ke depan pasar tradisional juga akan dikembangkan sebagai ruang yang lebih multifungsi, tidak hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang kreatif bagi masyarakat.
“Pasar ke depan harus bisa menjadi ruang ekonomi sekaligus ruang sosial dan budaya. Kami mendorong adanya aktivitas kreatif anak muda, seni budaya, hingga integrasi dengan penjualan online,” tambahnya.
Baca Juga: Efisiensi Tinggal Narasi, Panggung Megah HUT Kota Blitar Justru Picu Sorotan
Di sisi lain, peran DPRD juga dinilai krusial, baik dalam fungsi penganggaran maupun pengawasan, serta memberikan masukan strategis dalam pengembangan pasar tradisional.
Namun demikian, keberhasilan upaya ini juga sangat bergantung pada kesiapan para pedagang untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pedagang diharapkan mulai memanfaatkan sistem pembayaran digital serta meningkatkan kualitas dan tampilan produk agar lebih menarik dan kompetitif.
Baca Juga: Dari Santunan hingga 10 Ribu Porsi Sarapan, Guntur Wahono Soroti Kekuatan Gotong Royong
Dengan sinergi antara pemerintah, legislatif, dan para pelaku pasar, diharapkan pasar tradisional di Kota Blitar dapat kembali menjadi pusat ekonomi yang hidup dan diminati masyarakat. (Zan)












