Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
BLITAR

Sunyi yang Setia: HUT ke-74 Baret Merah di Blitar Jadi Ruang Merawat Loyalitas dan Kedekatan dengan Rakyat

Prawoto Sadewo
×

Sunyi yang Setia: HUT ke-74 Baret Merah di Blitar Jadi Ruang Merawat Loyalitas dan Kedekatan dengan Rakyat

Sebarkan artikel ini

Blitar, Memo.co.id

Tidak ada gemuruh berlebihan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Kota Blitar. Namun justru dari kesederhanaan itulah, makna pengabdian terasa lebih dalam seperti denyut yang tak terlihat, tapi menjaga kehidupan tetap berjalan.

Baca Juga: Aktivis di Blitar Dipanggil Polisi Usai Orasi Antikorupsi, Kriminalisasi?

Bertempat di Hotel Grand Mansion, Sabtu (18/4/2026), peringatan ini mempertemukan prajurit aktif, purnawirawan, hingga unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat. Bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang merawat ingatan, loyalitas, dan hubungan yang selama ini terjalin antara prajurit dan rakyat.

Tema “Garda Senyap untuk Negeri” seolah menjadi cermin jati diri Kopassus hadir tanpa banyak kata, bekerja tanpa banyak sorot.

Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Mobil Warga Kediri Ludes Terbakar di Udanawu

Kapten Infanteri Riyadi, yang didapuk sebagai ketua panitia, menyampaikan bahwa peringatan ini adalah refleksi panjang perjalanan pengabdian korps baret merah.

“Kami tidak selalu terlihat, tetapi kami selalu ada. Itulah makna ‘garda senyap’ bekerja dalam diam, namun dengan kesetiaan penuh pada bangsa,” ujarnya.

Baca Juga: Fatatoh Hironi Ulya Gelorakan Semangat Nasionalisme Lewat Nobar Timnas di Kanigoro Blitar

Ia menekankan, kedekatan dengan masyarakat bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi kekuatan itu sendiri. Dalam banyak situasi, kepercayaan publik menjadi benteng pertama yang tak tergantikan.

Di sisi lain, kehadiran para purnawirawan memberi warna tersendiri. Bagi mereka, peringatan seperti ini bukan hanya nostalgia, tapi juga peneguhan nilai.

Mayor (Purn) Kasmolan menilai semangat korps masih terjaga di tangan generasi penerus.

“Kopassus bukan hanya tentang kemampuan tempur, tapi juga kehormatan dan loyalitas. Itu yang saya lihat masih hidup hari ini,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa profesionalisme prajurit harus tetap berpijak pada kedekatan dengan rakyat sebuah prinsip lama yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Acara berlangsung dalam nuansa hangat: doa bersama, sambutan, dan ramah tamah yang mengalir tanpa sekat. Tidak ada jarak antara yang aktif dan yang telah purna, juga antara prajurit dan masyarakat.

Di tengah dunia yang kian bising oleh kepentingan, mungkin memang dibutuhkan lebih banyak “garda senyap” mereka yang bekerja tanpa riuh, namun setia menjaga negeri tetap utuh.