Example floating
Example floating
NGANJUK

Capaian Peningkatan Populasi Hewan Ternak & Pelayanan Keswan di Nganjuk Lampaui Target, Kadisperta Himbau Tetap Bangun Sinergitas

A. Daroini
×

Capaian Peningkatan Populasi Hewan Ternak & Pelayanan Keswan di Nganjuk Lampaui Target, Kadisperta Himbau Tetap Bangun Sinergitas

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO

– Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Nganjuk, di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Ida Shobihatin , gencar melakukan revitalisasi sektor peternakan.

Baca Juga: Diduga Terpeleset Ke Sungai, Dua Jam Terseret Arus, Lansia Asal Lingkungan Pengkol Warujayeng Ditemukan Tidak Bernyawa

Khususnya melalui percepatan peningkatan populasi hewan ternak beserta pelayanan kesehatan hewan berupa tindakan pengendalian penyakit hewan yang ada di 20 kecamatan di Kabupaten Nganjuk.

Untuk diketahui, sesuai data real jumlah populasi dan jenis hewan ternak tahun 2026 yang tercatat di Dinas Pertanian capaianya cukup memuaskan.

Baca Juga: Memasuki Tahun Ke 7 Baksos Di Bulan Suci Ramadhan 1447 H, Kades Sukorejo Serahkan Bantuan Sepeda Untuk 8 Anak Yatim Piatu

Dari 8 jenis kelompok hewan ternak sesuai catatan dinas dan masuk daftar 5 besar populasi tertinggi tahun 2026 diantaranya untuk urutan pertama ada pada gabungan kelompok peternak hewan kambing jawa di 20 kecamatan yaitu sebanyak 120.777 ekor.

Untuk urutan kedua terbanyak jatuh pada populasi hewan ternak sapi potong yaitu sejumlah 117.971 ekor. Di peringkat ke tiga populasi tertinggi ada pada kelompok peternak domba yaitu sebanyak 70.908 ekor.

Baca Juga: Sambut Datangnya Nuzulul Qur'an, LSM GAKK Gandeng Relawan PDIP Bagi Bagi Puluhan Paket Sembako Untuk Kaum Dhuafa

Sedangkan untuk urutan 4 dan 5 adalah kelompok peternak kelinci dengan populasi mencapai 9516 ekor, sementara untuk jenis hewan ternak kerbau menduduki urutan ke -5 dengan jumlah populasi sebanyak 803 ekor.

Untuk populasi jenis hewan ternak lainnya seperti sapi perah , kuda dan babi angkanya masih di bawah 150 ekor.
Persisnya untuk sapi perah populasinya tahun 2026 tercatat ada 119 ekor. Untuk babi ada 80 ekor dan yang terkecil populasinya adalah hewan ternak kuda yaitu sejumlah 5 ekor.

” Dengan capaian itu harapannya bisa terus meningkat lagi jumlah populasinya ditahun tahun berikutnya, tentunya harus dibarengi dengan optimalisasi pelayanan kesehatan hewan di masyarakat melalui tindakan pencegahan lewat vaksinasi dan desinfeksi,” terang Kepala Dinas Pertanian, Ida Shobihatin, A.P, M.Si.

Untuk mewujudkan itu masih kata Ida Shobihatin diperlukan sinergitas antara peternak dan pemerintah daerah melalui dinas pertanian bidang peternakan.

” Dinas Wellcome sewaktu waktu dibutuhkan. Petugas kesehatan hewan di wilayah kecamatan juga selalu ready jika ada laporan dari masyarakat seputar penyuluhan atau tindakan medis hewan,” ujar Ida Shobihatin.

Disinggung pula oleh Ida Shobihatin saat monitoring di kandang ternak sapi potong di Desa Sukorejo Kecamatan Loceret karena ada larangan keras sapi impor masuk ke Jawa Timur sangat berdampak pada harga penjualan sapi potong tetap stabil.

” Kalau harga pasaran aman, otomatis berdampak bagus bagi tingkat kesejahteraan peternak. Hewan sehat harga meningkat itu harapan bersama,” tutur Ida Shobihatin.

Disinggung soal bentuk tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit hewan disampaikan juga oleh Kadis Pertanian melalui Medik Vetetinrr, Drh. Neneng Susanti membeberkan untuk tindakannya terbagi menjadi 4 kegiatan.

Yaitu tindakan pencegahan melalui bantuan suntik vaksinasi hewan ternak terealisasi sebanyak 10.054 ekor. Sedangkan untuk pelayanan pengobatan penyakit tercatat ada 26.118 ekor hewan. Termasuk pelayanan umum (suportif penyehatan) tercatat ada 49.250 ekor.

” Total keseluruhan ada 85.872 ekor yang sudah ditangani dinas dari target di tahun 2025 sebesar 80.000 ekor penanganan. Artinya kita sudah melewati batas aman dengan realisasi 107%,’ jelas Neneng Susanti.

Untuk jenis vaksin hewan masih kata Neneng Susanti terdiri dari 4 macam vaksin. Diantaranya vaksin LSD ( Lumpy Skin Disease ) atau populer dengan sebutan penyakit lato-lato.

Vaksinasi jenis ke dua yaitu vaksin Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK). Termasuk vaksinasi Septicaemia Epizootica ( SE ) atau masyarakat awam menyebutnya dengan istilah penyakit ngorok/gondong. Jenis vaksinasi satu lagi yaitu vaksin Rabies atau penyakit anjing gila.

Dari upaya dan harapan dinas seperti itu ternyata mendapat respon positif dari kelompok peternak binaan di Kabupaten Nganjuk.

Salah satunya seperti pengakuan yang disampaikan oleh dua peternak besar dan sukses. Yaitu Wijiono peternak kambing PE ( peranakan etawa) asal dari Dusun Mbrayung Desa Sumber Urip Kecamatan Brebek.Satu lagi peternak sapi potong bernama Mursid asal Desa Sukorejo Kecamatan Loceret.

Keduanya mengaku sangat terbantu dengan hadirnya dinas memberikan arahan dan support untuk perkembangan usaha ternak hingga saat ini.

” Tanpa pendampingan dan pelayanan kesehatan secara ketat dari dinas dimungkinkan tidak bisa sebesar seperti saat ini,” ujar kedua peternak saat ditemui di tempat usahanya belum lama ini.

Untuk diinformasikan jumlah hewan ternak kambing PE milik Wijiono saat didata petugas dari dinas pertanian sebanyak 100 ekor. Sedangkan jumlah sapi potong milik Muhajir saat dimonitoring Kadisperta ,Ida Shobihatin tercatat ada 150 ekor. Ini bukti kerja nyata dinas dalam mewujudkan program bupati Marhaen yaitu revitalisasi sektor peternakan. ( Adi)