Blitar, memo.co.id
Rasa syukur akhirnya mengalahkan perbedaan. Puluhan ahli waris dan warga Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menggelar selamatan di area jalan makam yang baru dibangun, Jumat 20 Desember 2025 pagi.
Baca Juga: Pesta Mercon di Tengah Jalan Picu Keributan, Warga Tantang Polisi: “Buka Baju, Sekalian Kelahi!”
Selamatan ini menjadi penanda berakhirnya polemik pembangunan jalan makam yang sempat memicu perbedaan pandangan antar ahli waris. Jalan tersebut dibangun untuk memudahkan akses pemakaman warga, terutama saat prosesi pengantaran jenazah.
Aro, perwakilan pemuda Desa Tlogo, mengungkapkan bahwa penolakan sempat muncul dari salah satu ahli waris karena pembangunan paving berdampak pada makam leluhurnya.
Baca Juga: Dari Meja Miras ke Bara Api: Kronologi Pembakaran Toko di Garum
“Awalnya memang ada keberatan. Salah satu ahli waris memprotes karena makam keluarganya terdampak pemasangan paving. Tapi setelah dimusyawarahkan, akhirnya bisa menerima karena kepentingannya untuk masyarakat lebih luas,” ujar Aro.
Ia menegaskan, proses pembangunan jalan makam tidak dilakukan secara sepihak. Seluruh tahapan telah melalui koordinasi dan rapat bersama warga serta para ahli waris.
Baca Juga: PUPR Kabupaten Blitar Siapkan Jalan Aman untuk Pemudik, 14 Titik Kerusakan Jadi Prioritas
“Karena sudah dibicarakan bersama dan ada kesepakatan, pembangunan bisa berjalan lancar. Ini murni gotong royong warga,” imbuhnya.
Pemasangan paving di tengah area makam memang tidak bisa dihindari menyentuh beberapa makam lama. Namun, warga menilai manfaat sosial yang dihasilkan jauh lebih besar, terutama untuk kemudahan akses dan kenyamanan prosesi pemakaman ke depan.
Heru Santoso, salah satu tokoh masyarakat Desa Tlogo, mengatakan selamatan digelar sebagai ungkapan syukur sekaligus doa bersama.
“Hari ini warga tasyakuran di makam. Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mendoakan para leluhur agar mendapat ridho Allah. Yang ditinggalkan semoga selalu diberi keselamatan dalam menjalani kehidupan,” tuturnya.
Sementara itu, Pemerintah Desa Tlogo melalui para pamong desa menyampaikan apresiasi atas kedewasaan warga dalam menyikapi perbedaan pendapat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang tetap menjaga guyub rukun. Berkat kebersamaan ini, pembangunan jalan makam bisa terlaksana dan hari ini ditutup dengan tasyakuran bersama,” ujar salah satu perangkat desa.
Selamatan tersebut berlangsung sederhana namun khidmat. Di antara doa dan kebersamaan, jalan makam yang sempat menuai perdebatan kini justru menjadi simbol kompromi, musyawarah, dan kepentingan bersama di Desa Tlogo.**












