NGANJUK, MEMO – Mengenal lebih dekat sejarah lahirnya kesenian tradisional Jawa ” Wayang Timplong” yang hingga kini masih hidup di tengah era digitalisasi dan masih tampil di acara acara tertentu berbau ritual. Seperti acara nyadran atau bersih desa.
Wayang Timplong atau masyarakat awam menyebutnya dengan istilah wayang krucil adalah kesenian wayang asli khas Nganjuk, Jawa Timur.
Baca Juga: Jelang Lebaran, 86 Lansia Miskin Di Kampungbaru Terima Bansos SARMUKO Dari TP - PKK Kabupaten

Kesenian kuno yang lahir sebelum Indonesia merdeka atau tepatnya di tahun 1910 tersebut diciptakan oleh Mbah Bancol dari Desa Kedungbajul, Kecamatan Pace.
Baca Juga: Pengaburan Status Jalan Umum Di Desa Betet Akhirnya Terkuak, Begini Reaksi Warga......
Dinamakan “Timplong” karena bunyi gamelannya yang khas, terdengar seperti “plong-plong-plong” dari kejauhan.
Wayang Timplong terbuat dari kayu pipih seperti kayu waru ,mentaos atau pinus .Ukuranya lebih kecil dibandingkan wayang kulit.

Baca Juga: Safari Kemanusiaan AWN Belum Berakhir, Hari Ini Bagikan Santunan Untuk 20 Yatim Piatu Di Brebek
Sudah menjadi ciri khasnya, pementasan Wayang Timplong diiringi alat gamelan Jawa yang lebih sederhana. Hanya menggunakan gambang, kendang,kenong dan gong kecil ( suwukan ).
Karakter lainnya, pementasan wayang timplong biasanya tanpa kelir atau ada kelirnya tapi bolong tengah. Dan waktu pertunjukkan lazimnya dilakukan pada siang hari. Tapi ada sebagian memilih malam hari.












