Example floating
Example floating
NGANJUK

Uri Uri Budoyo Adi Luhung,Nyadran Dusun Ketangi Gelar Langen Tayub

Mulyadi Memo
×

Uri Uri Budoyo Adi Luhung,Nyadran Dusun Ketangi Gelar Langen Tayub

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Seperti tahun tahun sebelumnya. Setiap bulan Selo ( penanggalan Jawa,red) jatuh di hari malam jum’at kliwon, masyarakat Dusun Ketangi Desa Kampungbaru Kecamatan Tanjunganom rutin mengadakan kegiatan nyadran atau populer disebut bersih dusun.

Uniknya, mengawali rangkaian acara nyadran selalu menggelar tontonan tradisional yaitu tayub.Artinya masyarakat tidak bisa mengganti atau meninggalkan acara tersebut.

Baca Juga: Diduga Terpeleset Ke Sungai, Dua Jam Terseret Arus, Lansia Asal Lingkungan Pengkol Warujayeng Ditemukan Tidak Bernyawa

Kenapa begitu ? Apakah ada hubungannya dengan sarana syarat tolak balak atau hanya sekedar sebatas hiburan saja?. Begini sekilas keterangan dari sejumlah tokoh adat juga warga awam setempat.

Baca Juga: Memasuki Tahun Ke 7 Baksos Di Bulan Suci Ramadhan 1447 H, Kades Sukorejo Serahkan Bantuan Sepeda Untuk 8 Anak Yatim Piatu

Di mata kelompok masyarakat awam menilai sangat simpel. Bahwa kecintaan masyarakat dengan kesenian tayub dianggapnya karena sudah turun temurun.

Baca Juga: Sambut Datangnya Nuzulul Qur'an, LSM GAKK Gandeng Relawan PDIP Bagi Bagi Puluhan Paket Sembako Untuk Kaum Dhuafa

” Memang sejak dulu warga sini gandrung dengan langen bekso. Artinya sudah menjadi klangenan masyarakat ketangi khususnya para generasi lansia dan sebagian anak anak muda suka gending Jawa dan tarian wanita wanita cantik berbusana Jawa,” terang sejumlah warga.

Namun berbeda dengan sudut pandang para sesepuh dan tokoh adat setempat kental dengan syarat tolak balak. Dengan harapan masyarakat bisa hidup ayem tentrem guyub rukun dijauhkan dari segala marabahaya.

” Lantunan Gending dan gamelan ladrang wilujeng, ladrang Srikaton dan ketawang basanta bikin suasana tentrem,” terang para nara sumber.

Namun yang jelas seperti disampaikan Kepala Desa Kampungbaru,Susilo Dwi Prasetyo bahwa kesenian tayub adalah pertunjukan seni tradisional yang memiliki makna dan filosofi yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat.

Secara singkat dikatakan Susilo bahwa tayub bukan sekedar pertunjukan, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai nilai sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

” Pertunjukan ini mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Dan disetiap gerak tariannya mengandung pesan moral. Ini yang patut dijaga dan di uri uri. Ini bukti bahwa tayub juga bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Jawa,” papar Susilo saat setelah memberikan sambutan di acara tersebut tadi malam ( Kamis,22/05/2025).

Kesenian tayub masih kata Susilo perlu terus diajarkan dan dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai warisan budaya lokal.

Karena lebih jauh dikatakan kades muda ini bahwa tarian tayub adalah tarian tradisional Jawa yang kaya akan sejarah dan makna.Tarian ini memiliki sejarah yang panjang, dengan akar pada mitologi Hindu, kepercayaan lokal, dan tradisi Jawa.

” Atas nama pemerintahan desa berharap dengan acara nyadran ini bisa menjadikan sarana terciptanya kerukunan antar warga. Dan tidak kalah pentingnya wujud dari upaya menjaga dan uri uri budaya Adi luhung. Saya sangat mengapresiasi,” pungkasnya. ( Adi )