” Lantunan Gending dan gamelan ladrang wilujeng, ladrang Srikaton dan ketawang basanta bikin suasana tentrem,” terang para nara sumber.
Namun yang jelas seperti disampaikan Kepala Desa Kampungbaru,Susilo Dwi Prasetyo bahwa kesenian tayub adalah pertunjukan seni tradisional yang memiliki makna dan filosofi yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat.
Baca Juga: Pembagian MBG Untuk Kelompok 3B Tidak Merata, Perwakilan Kades Di Baron Protes SPPG

Secara singkat dikatakan Susilo bahwa tayub bukan sekedar pertunjukan, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai nilai sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga: Apa Hak Korban Penganiayaan Di Bawah Umur ? Begini Tanggapan Aktifis Sosial Tanti Niswatin
” Pertunjukan ini mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Dan disetiap gerak tariannya mengandung pesan moral. Ini yang patut dijaga dan di uri uri. Ini bukti bahwa tayub juga bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Jawa,” papar Susilo saat setelah memberikan sambutan di acara tersebut tadi malam ( Kamis,22/05/2025).

Kesenian tayub masih kata Susilo perlu terus diajarkan dan dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai warisan budaya lokal.
Karena lebih jauh dikatakan kades muda ini bahwa tarian tayub adalah tarian tradisional Jawa yang kaya akan sejarah dan makna.Tarian ini memiliki sejarah yang panjang, dengan akar pada mitologi Hindu, kepercayaan lokal, dan tradisi Jawa.
” Atas nama pemerintahan desa berharap dengan acara nyadran ini bisa menjadikan sarana terciptanya kerukunan antar warga. Dan tidak kalah pentingnya wujud dari upaya menjaga dan uri uri budaya Adi luhung. Saya sangat mengapresiasi,” pungkasnya. ( Adi )












