NGANJUK, MEMO – Bersih desa atau populer disebut masyarakat pedesaan dengan istilah nyadran lazim diadakan setiap satu tahun sekali pada bulan dan penanggalan jawa tertentu. Atau rutin diadalan pasca panen raya padi di musim rendengan.
Lantas kenapa tradisi nyadran tetap di uri uri sampai sekarang oleh masyarakat jawa ? . Yang pasti, budaya nyadran memiliki peran besar dalam membangun jiwa spiritual dan sosial kemasyarakatan.
Dua konsep itu sangat melekat di hati masyarakat jawa .
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum

Secara konkrit, membangun jiwa spiritual mengandung makna secara tidak langsung masyarakat teredukasi untuk selalu bersyukur kepada sang pencipta karena telah diberi kemurahan rejeki berupa kecukupan pangan lewat hasil bumi yang melimpah ruah.
Baca Juga: PC Muhammadiyah Kertosono Besok Tunaikan Sholat Ied Di Lima Titik
Sementara untuk pesan sosial kemasyarakatan lekat atau identik dengan membangun kerukunan antar warga. Artinya dengan acara nyadran adalah bagian dari sarana silahturahmi antar warga. Dengan harapan bisa tercipta keamanan ketertiban dan rasa gotong royong sesuai falsafah Pancasila.

Baca Juga: Ponpes Al Ubaidah Jadi Tuan Rumah Penutupan Safari Ramadan 1447 H/2026 M Pemkab Nganjuk
Mungkin bedanya kalau nyadran tempo dulu cukup dirayakan dengan cara sangat sederhana. Yaitu memanjatkan do”a bersama dengan menggelar acara berkaitan atau kondangan yang dilaksanakan di punden ( makam danyang desa,red ) yang dipercaya sebagai pesarehan orang linuwih yang memiliki kesaktian mampu babat alas untuk dijadikan area perkampungan.
Kalau nyadran jaman sekarang tentunya dikemas lebih meriah. Karena dikolaborasi dengan beragam acara hiburan dan kirab budaya versi milineal. Tetapi tetap tidak meninggalkan tradisi leluhur yaitu berkaitan ( ambengan) di pesarehan danyang desa.

Seperti nyadran yang baru saja diadakan di Desa Kemlokolegi Kecamatan Baron, Nganjuk pada hari ini ( Jumat Legi , 9/05/2025). Beragam hiburan sudah terjadwal. Selain acara berkaitan ( kirim do”a) , juga ada sederetan acara hiburan. Diantaranya kirab budaya dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan oleh Pemdes Desa setempat.
Potret kemeriahan warga pada hari ini cukup menakjubkan. Ratusan warga tumplek blek turun ke jalan memeriahkan acara kirab budaya. Masing masing RT adu kreasi untuk ditampilkan bisa meraih juara.

Tidak kurang dari puluhan kreasi hasil cipta warga di arak di jalan. Seperti patung petani yang dibuat dari bahan bekas, gunungan tumpeng hasil bumi berukuran jumbo , garida raksasa , serta tampilan grup wayang orang juga menambah suasana budaya yang bertemakan tradisi pedesaan sangat menghibur penonton dan panitia juga juri lomba kreasi budaya.
” Pemenang harus sesuai kriteria lomba. Menarik dan berkarakter ,” terang Kades Kemlokolegi, Januar Arif Gunawan.

Januar Arif dalam wawancara dengan sejumlah awak media menjelaskan uri uri Budoyo Adi luhung mencerminkan cinta budaya pribumi.
” Termasuk acara bersih desa seperti ini bagian dari perwujudan cinta budaya sendiri yang patut dilestarikan,” papar Januar Arif.

Hal senada disampaikan Camat Baron, Gunawan Wibisono , bahwa nyadran bisa dijadikan sarana edukasi tentang pentingnya menjaga Kamtibmas. Untuk mencapai itu kuncinya menjunjung tinggi kerukunan.
” Tetap selalu menjaga kerukunan dan ketertiban bisa menjadikan desa yang makmur, subur dan sejahtera,” tutur Gunawan Wibisono.
Untuk diketahui , penilaian dan penyerahan hadiah bagi pemenang juara 1,2,3 dan 4. serta juara harapan diserahkan langsung oleh Kades Kemlokolegi,Januar Arif Gunawan dan Camat Baron, Gunawan Wibisono. ( Adi )












