MEMO – Libur Ramadan bukan hanya sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi juga menjadi momen berharga bagi orang tua untuk membimbing anak-anak dalam pembelajaran serta meningkatkan nilai-nilai spiritual dan moral. Hal ini disampaikan oleh Perwakilan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Imaduddin Hamzah, yang menegaskan bahwa peran aktif orang tua sangat diperlukan agar anak tetap disiplin dalam belajar dan beribadah selama liburan.
“Libur Ramadan adalah kesempatan emas bagi keluarga untuk mempererat hubungan emosional. Orang tua diharapkan terlibat aktif dalam mendampingi anak-anak, baik dalam proses belajar maupun dalam menjalankan ibadah,” ujar Imaduddin dalam wawancara , Jumat (21/2/2025).
Baca Juga: Keajaiban Ramadan di Tual! Siswa SMPN 7 Sukses Khatam Al-Qur'an dalam 72 Jam
Salah satu tantangan terbesar selama libur panjang adalah penggunaan gadget yang berlebihan. Imaduddin mengingatkan bahwa anak-anak perlu diarahkan untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kegiatan sosial, atau berdiskusi bersama keluarga.
“Membatasi waktu bermain gadget sangat penting agar anak lebih fokus pada aktivitas positif. Momen seperti sahur dan berbuka bersama bisa menjadi ajang memperkuat hubungan keluarga,” tambahnya.
Baca Juga: Waspada! Pola Asuh yang Salah Bisa Sebabkan Kekerasan pada Perempuan & Anak
Selain bimbingan orang tua, peran sekolah dan pemerintah daerah juga tidak kalah penting. Imaduddin menyarankan agar program pembelajaran selama liburan tetap dilakukan, tetapi dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan.
Beberapa kegiatan yang dapat diterapkan antara lain:
Pesantren kilat untuk memperdalam ilmu agama
Kegiatan sosial seperti berbagi takjil dan membantu sesama
Kelompok belajar di lingkungan sekitar untuk menjaga semangat akademik
Baca Juga: Panduan Ibadah Malam Nisfu Syaban 2026 Lengkap Jadwal Doa dan Amalan Sunnah
Menurutnya, kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis dan tetap produktif selama liburan.
Imaduddin juga menekankan bahwa pembelajaran selama libur tidak boleh terasa membebani anak. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu menerapkan metode yang lebih kreatif, seperti belajar melalui permainan, diskusi interaktif, atau eksplorasi pengalaman baru yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Ketika anak merasa metode belajar menyenangkan, mereka akan tetap termotivasi untuk belajar meskipun sedang liburan,” tuturnya.












