6 Kitab Kuning Berfungsi Sebagai ‘Ilmu Alat’ Untuk Belajar di Diniyah Pondok Pesantren

Sebelum mempelajari kitab kuning atau kitab gundul yang banyak diajarkan di lingkungan pondok pesantren, ada kitab kuning yang harus dipelajari pertama kali, sebelum mempelajari banyak kitab kuning lainnya, yakni ilmu alat.

Beberapa kitab kuning , semuanya tidak memiliki harokat hingga seseorang harus mempelajari ilmu alat, agar bisa menerjemahkan kitab kitab gundul.

Bacaan Lainnya

Kitab kuning merupakan pegangan pokok bahkan wajib dalam pendidikan di pesantren. Kitab-kitab yang berisikan keilmuan keagamaan seperti fikih, tasawuf, nahwu, sharaf dan lain-lain menjadi rujukan utama pada pondok-pondok pesantren.

Kitab kuning ini juga familiar dengan sebutan kitab gundul, disebut demikian karena memang kitab-kitab tersebut tidak memiliki harakat. Oleh karena itu, untuk bisa membaca dan memahaminya, membutuhkan ketekunan dan waktu belajar yang relatif lama.

Di kalangan para santri yang notabene tinggal di pesantren, mempelajari kitab kuning atau kitab gundul bisa dibilang susah-susah gampang. Bukan hanya memahaminya saja, para santri juga dituntut untuk hafal. Tak jarang, jika tidak memiliki ketekunan dan konsisten yang tinggi dalam menghafal dan memahami, para santri akan sangat kewalahan.

Kitab Nahwu  Shorof Yang Wajib Dikuasai Para Santri Sebelum Belajar Ratusan Kitab Gundul di Pesantren Salafiyah

Di antara banyaknya kitab yang diajarkan dipesantren, yaitu kitab nahwu dan sharaf. Kedua ilmu ini termasuk komponen penting dalam pembelajaran di pesantren. Lalu, apa saja sih kitab-kitab nahwu dan sharaf yang banyak dipelajari di pesantren itu ? Berikut daftar kitabnya.

1. Kitab Matan Jurumiyah

Kitab Matan Jurumiyah adalah kitab dasar yang berisikan ilmu tata bahasa Arab atau ilmu nahwu. Meskipun kitab ini terbilang tipis, namun kitab ini memiliki manfaat yang banyak sekali. Kitab Matan Jurumiyah merupakan kitab karya Imam Shanhaji (672 H – 723 H). Nama lengkap beliau adalah Imam Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shanhaji, asli kelahiran Maroko. Menurut pendapat Imam Ibn al-Haj, Imam as-Shanhaji lahir pada tahun wafatnya Imam Ibn Malik. Wallahu a’lam.

Secara metodologis, kitab Matan Jurumiyah tersebut disusun secara deduktif, di mana kitab ini menyuguhkan beberapa kaidah lebih dulu selanjutnya menyuguhkan beberapa contoh untuk menambah atau memperkuat keterangan dari kaidah itu. Hingga saat ini, kitab Matan Jurumiyah masih dipelajari banyak santri di sejumlah bahkan kebanyakan ponpes di Indonesia, hal ini dikarenakan di samping kitab ini ringkas dan padat, juga berisikan kaidah-kaidah ilmu nahwu yang gampang untuk dihafal.

Selain Kitab Matan Jurumiyah, kitab-kitab yang menjadi syarahnya juga banyak dikaji dalam dunia pesantren. Seperti kitab Hasyiah  Al-Asymawi ala Matan Jurumiyah fi Ilmi al-Lughah al-Arabiyah karya Imam Abdillah Ibn Fadhil, kitab Syarah al-Atamah as-Syaikh Hasan al-Kafrawi ala Matan Jurumiyah, karangan dari Imam Hasan al-Kafrawi. Dan masih banyak lagi.

2. Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah

Pengarang kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah Syeikh Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abd al-Jabbar. Beliau asli kelahiran Maskumambang Gresik dan merupakan salah satu santrinya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari.

Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah kitab shorof dasar dan sangat populer di kalangan para santri. Kitab ini biasa disebut dengan kitab tashrifan. Kitab Amshilah at-Tashrifiyyah adalah kitab yang mengkaji seputar ilmu sharaf. Kitab ini disusun secara sistematis sehingga para santri yang mempelajarinya mudah paham dan hafal.

Selain menjadi pegangan wajib bagi para santri di pesantren, kitab ini juga menjadi panduan belajar dalam dunia akademi internasional. Meski disusun secara sistematis yang memudahkan saat mempelajarinya, kitab ini hanya memuat sedikit keterangan. Hal tersebut bisa dimaklumi, mengingat judul dari kitab ini juga Amshilah at-Tashrifiyyah, yang berarti contoh-contoh tashrif. Meski demikian, kitab Amshilah at-Tashrifiyyah menjadi kitab yang meliputi bagian-bagian penting untuk kita pelajari.

3. Kitab Amtsilati

Kitab Amtsilati adalah sebuah kitab yang terdiri atas 5 jilid, yang berisikan metode membaca kitab kuning untuk pemula yang belajar ilmu nahwu. Kitab ini merupakan kitab gagasan dari KH. Taufiq al-Hakim asli kelahiran Kota Jepara, Jawa Tengah.

Pos terkait