Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Home

Terbongkar! Tantangan Besar Menteri: Pasokan Kerja vs Keterampilan!

Alfi Fida
×

Terbongkar! Tantangan Besar Menteri: Pasokan Kerja vs Keterampilan!

Sebarkan artikel ini
Terbongkar! Tantangan Besar Menteri: Pasokan Kerja vs Keterampilan!
Terbongkar! Tantangan Besar Menteri: Pasokan Kerja vs Keterampilan!

MEMO

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah bersama jajaran diundang untuk menghadiri Rapat Kerja DPR RI dalam upaya membahas progres kebijakan terkait lapangan kerja, kesenjangan pasokan tenaga kerja, dan kebutuhan keterampilan digital demi menyongsong masa depan industri.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Ayahnya, Megawati Pertegas Semangat Merawat Warisan Bung Karno 

Menteri Ida Fauziyah Bahas Kesenjangan Pasokan dan Permintaan Tenaga Kerja

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia telah mengundang Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, beserta timnya untuk menghadiri Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IX DPR RI pada hari Selasa, tanggal 14 November 2023.

Agenda Raker hari ini adalah untuk membahas kemajuan kebijakan Kementerian Ketenagakerjaan terkait pemenuhan link and match, peluang kerja di dalam negeri, ekspansi pasar kerja internasional, pengembangan talenta muda, dan transformasi digital di sektor ketenagakerjaan.

Baca Juga: Kapolres Blitar Klarifikasi Isu Dugaan Penganiayaan Ajudan Wakapolres

Selain itu, dalam Raker ini, juga disoroti monitoring serta evaluasi program Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK) untuk penempatan tenaga kerja ke Timur Tengah dan wilayah lain. Selain itu, ada evaluasi terhadap program perluasan kesempatan kerja dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) serta target perluasan lapangan kerja dalam investasi Tahun 2024.

Menteri Ida Fauziyah, di hadapan anggota Komisi IX DPR RI, menyoroti tantangan dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia. Salah satunya adalah kesenjangan antara pasokan dan permintaan di pasar tenaga kerja Indonesia.

Baca Juga: Beky Herdihansah Janji Perjuangkan Harga Telur Peternak Rakyat Blitar, Siap Surati Pemerintah Pusat

Sebanyak 1,8 juta lulusan SMA setiap tahun tidak dapat terserap di perguruan tinggi dan terpaksa langsung memasuki pasar kerja.