“Karena harga yang lebih dapat dijangkau dibanding telur yang mempunyai cangkang yang bagus,” katanya.
“Walaupun harus berbaris di loket peternakan. Di situ, telur dipasarkan pada harga Rp19 ribu/kg,” sambungnya.
Sementara, salah seorang karyawan di peternakan ayam Cusauk, Soleh menjelaskan, memang keadaan masyarakat yang beli telur rengat ini, telah terbiasa terjadi. Tetapi, ketika harga telur mahal, karena itu jumlah konsumen telur rengat alami kenaikan.
“Semakin banyak dari yang umumnya sich, terus cepat habis juga. Satu hari itu paling kita ada sekitaran 20 kglah telur rengat, itu habisnya lama dapat sepanjang hari. Tetapi saat ini, siang saja telah habis, itu banyak juga yang tidak kebagian,” terangnya.
Baca Juga: Jelang Munas X LDII April 2025, Menteri Fadli Zon Minta LDII Perkuat Kebudayaan
Keadaan telur rengat yang dipasarkan, disebut Soleh, cuma alami perpecahan saja. Tidak sampai membuat cangkang telur terbuka.
“Keadaan cangkangnya rengat saja, tidak sampai terbuka begitu,” ucapnya sambil menyebutkan, peningkatan harga telur karena harga pakan ayam yang mahal.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu












