“Utang luar negeri bukanlah masalah, karena rasio utangnya kecil. Sebaliknya, kita perlu mengelolanya dengan lebih cerdik. Yang menjadi masalah adalah utang dalam negeri yang berasal dari SBN dan dapat menyebabkan crowding out, merusak sektor keuangan, dan merugikan pasar modal serta sektor-sektor lainnya,” ungkap Wijayanto.
Keuntungan dan Risiko Eksploitasi Utang Luar Negeri
Menurutnya, pengelolaan utang luar negeri harus dilakukan dengan bijak dan tidak boleh dikendalikan sepenuhnya oleh pemberi utang, baik itu lembaga multilateral maupun institusi keuangan global. Ia mengusulkan agar pemanfaatan utang luar negeri dilakukan secara optimal dan tidak tunduk pada tekanan pemberi utang.
Baca Juga: Daftar Lengkap 27 Pejabat Tulungagung Diperiksa KPK Terkait Skandal Aliran Dana Pemerasan
Wijayanto memberikan contoh strategi yang dapat diadopsi, yaitu memanfaatkan utang luar negeri untuk membiayai proyek-proyek, seperti yang telah dilakukan oleh China dalam pembangunan jaringan kereta cepat dengan pendanaan dari Bank Dunia atau World Bank.
“Dia bisa menggunakan dana sendiri, tetapi 10% dari World Bank. Dengan adanya World Bank, seluruh proses dari awal sampai akhir menjadi kelas dunia karena ada lembaga internasional yang mengawasinya,” ujar Wijayanto.
Baca Juga: Kabar Gembira Mei 2026: Intip Rincian Gaji dan Tunjangan Pensiunan PNS Golongan IIIb
Melibatkan utang luar negeri dari lembaga asing dianggap dapat meningkatkan kualitas pembangunan proyek, karena lembaga tersebut turut serta dalam pengawasan. Sebagai contoh, Wijayanto membandingkan kualitas proyek MRT dan LRT di Jakarta, di mana MRT dianggap memiliki kualitas dunia karena adanya pengawasan dari pihak Jepang.
Dengan demikian, Wijayanto menegaskan pentingnya keterlibatan lembaga internasional dalam pembiayaan proyek melalui utang atau pinjaman. Ia menyoroti peran Indonesia Investment Authority (INA) sebagai katalisator keuangan eksternal yang dapat memastikan kelancaran proyek.
Baca Juga: Diakui IPSI, M. Taufiq Sah Pimpin PSHT, Blitar Serukan Soliditas Nasional
“Proyek seperti kereta cepat, LRT dapat melibatkan pihak lain, seperti ADB, AIIB, World Bank, atau melibatkan INA, karena INA dapat berperan sebagai katalisator keuangan eksternal yang akan memastikan kelancaran proyek,” papar Wijayanto.
Mengoptimalkan Potensi: Strategi Pemanfaatan Utang Luar Negeri bagi Pembangunan Infrastruktur Indonesia
Penekanan pada keterlibatan lembaga internasional, termasuk Indonesia Investment Authority (INA), menjadi kunci dalam melibatkan pembiayaan eksternal dan memastikan kelancaran proyek. Wijayanto menunjukkan bahwa proyek-proyek seperti kereta cepat atau LRT dapat melibatkan lembaga seperti ADB, AIIB, World Bank, atau INA, sebagai katalisator keuangan eksternal untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan proyek.












