Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh SMSI Kediri.
Agung melihat bahwa edukasi literasi media perlu digencarkan ke lembaga-lembaga terkait. “Tujuannya biar para aparat bisa membedakan mana media yang benar-benar mematuhi etika jurnalistik dan mana yang bekerja seenaknya,” kata Agung.
Agung mengungkapka,n bahwa era disrupsi digital tersebut membuat semua orang mudah membuat media. Modalnya juga tidak besar.
Namun demikian, lanjut Agung, pengusaha media harus memikirkan apa yang harus dipenuhi media. “Jangan dikira gampang. Ada tanggung jawab hukumnya juga lho,” katanya.
Baca Juga: Terbukti Korupsi, Kades Pojok Wates Dituntut 7 Tahun Penjara dan Denda Rp600 Juta
Misalnya mempekerjakan beberapa wartawan. Maka, pengusaha media, harus bertanggung jawab pada gaji, bahkan asuransi kesehatannya.
Pembicara lain, Wakil Ketua SMSI Jatim Anggit Satriyo Nugroho mengatakan bahwa perlu sekali siapapun diyakinkan dengan peran media dan wartawan.
Baca Juga: Jaksa Tuntut Sutrisno Sembilan Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp3,5 Miliar
“Wartawan dan media yang profesional harus diyakini bahwa dia bekerja dengan baik,” katanya.
Para pimpinan lembaga, kata dia, tidak boleh menggeneralisasi bahwa praktik seorang wartawan menyelewengkan tugas, lantas menganggap semua wartawan sama saja.
“Bisa saja itu oknum. Tapi, masih banyak wartawan yang bekerja baik, patuh etika dan profesional,” katanya. (*)












