Ada satu hal yang membedakan Mbah Jio dari praktisi lain: ia tak pernah memungut bayaran dari pasien yang berasal dari pesantren. Kebijakan ini adalah bentuk penghormatan dan pengabdiannya kepada almamater spiritualnya, mendiang KH Ahmad Djazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Ploso, Kediri. Sebuah sentuhan spiritual yang mengakar kuat dalam setiap layanannya.
Kesembuhan Instan dan Senyum Lega
Di ruang praktiknya yang jauh dari kesan modern, pasien datang dengan raut muka tegang, menahan sakit yang tak tertahankan. Proses pengobatan yang dilakukan Mbah Jio terbilang cepat dan seringkali menghasilkan kelegaan yang instan.
Ada yang hanya perlu dipijat lembut, sebagian lain cukup diarahkan bagaimana memijat sendiri di rumah. Momen paling mengharukan adalah ketika pasien yang tadinya datang dengan wajah muram, keluar dari ruang praktik dengan senyum lega dan langkah yang lebih ringan, seolah beban sakit telah terangkat.
Baca Juga: Trenggalek Perkuat Inklusi, HLUN 2025 Soroti Kesejahteraan Disabilitas dan Lansia
Salah satu yang merasakan langsung keajaiban tangan Mbah Jio adalah Yuli (57), warga Desa Sukosari, Kecamatan Trenggalek. Ia sempat menderita nyeri lutut yang tak kunjung teratasi meski sudah berobat medis. Akhirnya, ia mencoba jalur pengobatan alternatif.
“Ternyata sampai sini kata Mbah Jio tulang saya ada yang sedikit bergeser. Ya, kalau sudah tua gini ada saja keluhannya,” ucap Yuli, merasa masalahnya akhirnya ditemukan dan diatasi.
Baca Juga: Sorotan DPRD Trenggalek Anggaran TPP ASN Lebih Besar dari PAD Murni
Di tengah gempuran teknologi medis dan obat-obatan modern, keberadaan Mbah Jio dan praktik sangkal putungnya menjadi pengingat akan kekuatan pengobatan tradisional.
Keikhlasan, pengalaman bertahun-tahun, dan sentuhan tulus Mbah Jio telah menciptakan jembatan kepercayaan yang kokoh di hati masyarakat. Ia bukan sekadar penyembuh tulang, tetapi juga penjaga kearifan lokal yang terus menghadirkan harapan di Dusun Wadi Lor, Trenggalek.












