Perempuan yang akrab disapa Mbak Wali ini meminta seluruh pegawai tidak lagi terjebak dalam rutinitas mekanis yang kaku, melainkan mulai meresapi makna kurban bagi asn pemkot kediri sebagai fondasi utama pelayanan masyarakat.
Nilai keikhlasan, pengorbanan ego, dan ketulusan dalam kisah Nabi Ibrahim AS dinilai sangat relevan untuk mengikis sekat-sekat birokrasi yang selama ini dinilai publik kerap kurang peka.
Baca Juga: Vinanda Prameswati Jenguk Petugas Damkar Kediri Korban Tawon
Sentilan Vinanda Prameswati Soal Pentingnya Ketulusan Pelayanan Publik
Suasana halaman Balai Kota Kediri pada Senin pagi mendadak terasa berbeda dari biasanya. Ratusan abdi negara yang berkumpul dari berbagai sektor—mulai dari Sekretariat Daerah, Inspektorat, BKPSDM, BPPKAD, DPM PTSP, hingga perwakilan perangkat kelurahan seperti Pojok, Tinalan, dan Pocanan—tidak sekadar menjalani rutinitas baris-berbaris formal.
Mereka disuguhi sebuah refleksi mendalam mengenai esensi menjadi seorang pelayan masyarakat menjelang perayaan Hari Raya Kurban.
Baca Juga: DKPP Intensifkan Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban Di Kabupaten Kediri Jelang Idul Adha
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, yang memimpin langsung jalannya apel, memilih menggunakan pendekatan naratif yang menyentuh aspek psikologis pegawainya. Alih-alih membacakan teks laporan kinerja atau target serapan anggaran yang membosankan, kepala daerah termuda ini justru menyoroti penyakit akut yang sering menjangkiti dunia birokrasi: mentalitas “asal gugur kewajiban”.
“Kadang-kadang kita ini terjebak melihat pekerjaan hanya sebatas formalitas belaka. Datang tepat jam delapan pagi, duduk di meja, lalu pulang tenggo jam empat sore. Pola pikir mekanis seperti itu yang harus kita runtuhkan sekarang juga,” ujar Mbak Wali dengan nada bicara yang santai namun sarat akan penegasan.
Baca Juga: Mengurai Fakta Video Viral Dugaan Fee Proyek Koperasi Merah Putih Kediri, ASN Pemkab dengan TNI
Baginya, esensi dari kisah pengorbanan besar Nabi Ibrahim AS tidak boleh berhenti di atas mimbar khotbah atau sekadar menjadi ritus penyembelihan hewan kurban tahunan.
Bagi seorang aparatur negara, medan kurban yang sesungguhnya berada pada meja-meja pelayanan publik, kecepatan merespons keluhan warga, serta keberanian mengorbankan kenyamanan pribadi demi kepentingan masyarakat luas.
Kerja yang dilandasi rasa ikhlas, jujur, dan tanggung jawab penuh akan menghasilkan dampak nyata yang langsung dirasakan oleh warga Kota Kediri.
Menariknya, Vinanda juga membawa sudut pandang inklusif dalam arahannya. Ia memandang bahwa hikmah Iduladha memiliki dimensi universal yang melintasi batas-batas keyakinan agama.
Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap nilai-nilai pengorbanan dan keikhlasan berpotensi besar mempererat rajutan toleransi di kota yang dikenal dengan keberagamannya ini.
Ketika sesama rekan kerja maupun masyarakat luas saling memahami beratnya sebuah pengabdian, ruang-ruang prasangka dengan sendirinya akan terkikis dan digantikan oleh rasa saling menghargai.
Lebih jauh, Mbak Wali mengingatkan bahwa tantangan sosial di Kota Kediri kian hari kian dinamis. Oleh karena itu, aparatur pemerintah tidak boleh lagi bersikap pasif atau sekadar bersembunyi di balik tumpukan dokumen administrasi.
Kepekaan sosial menuntut para ASN untuk jeli melihat realitas di lapangan dan gesit menelurkan solusi konkret. Kehadiran negara di tengah masyarakat harus benar-benar terasa secara fisik dan kebijakan, bukan sekadar simbolis di atas kertas.
Restorasi mentalitas birokrasi ini menjadi sinyal kuat bahwa kepemimpinan anak muda di Kediri ingin membawa angin perubahan pada aspek kultural pemerintahan. Melalui momentum keagamaan ini, seluruh elemen pelayan publik ditantang untuk menata ulang niat pengabdian mereka.
Pada akhirnya, publik Kota Kediri tentu menantikan apakah suntikan motivasi spiritual di awal pekan ini mampu diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang lebih ramah, transparan, dan bebas dari belitan birokrasi yang berbelit-belit.












