Selanjutnya, dilanjutkan dengan pembuatan dokumen analisis risiko bencana serta pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS).
Para siswa juga terlibat dalam latihan penggunaan alat pemadam kebakaran, menonton presentasi visual mengenai bencana, dan membaca materi pada Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena).
Pada hari kedua, peserta dari kalangan siswa berlatih menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan alat pemadam api tradisional (APAT), serta keterampilan penanganan korban luka dan cedera serta pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Acara ini ditutup oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Probolinggo, Sugito Prasetyo, sekaligus penyerahan dokumen analisis risiko bencana (KRB) dan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS).
Baca Juga: Sah!! Ahmad Baharuddin Wabup Resmi Dapat SK PLT Bupati Tulungagung
Menginspirasi Perlindungan Generasi Masa Depan: Sukses P3B di Kota Probolinggo
Dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks, Program Pendidikan Perlindungan Bencana (P3B) telah memainkan peran sentral dalam mengubah paradigma siswa terhadap risiko dan mitigasi bencana.
Kegiatan yang diadakan di SMA Negeri 1 Kota Probolinggo dengan dukungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dan Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur, sukses menghadirkan pandangan baru tentang pentingnya kesadaran bencana di kalangan muda.
Baca Juga: Syawalan 1447 H di Ponpes Wali Barokah, Dandim 0809/Kediri Pesankan Ini
Hasan Irsyad, anggota DPRD Jawa Timur dari Komisi E, menekankan bahwa P3B adalah kunci dalam menumbuhkan keterampilan siswa dalam menghadapi risiko bencana.
Selain itu, integrasi isu bencana ke dalam kurikulum sekolah juga menjadi kunci dalam mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang mitigasi dan respons dalam situasi darurat.
Dengan fokus pada pelatihan praktis, seperti penggunaan alat pemadam kebakaran dan pertolongan pertama, para siswa mendapatkan keterampilan yang berguna sepanjang hidup mereka.
Pada akhirnya, keberhasilan P3B di SMA Negeri 1 Kota Probolinggo tidak hanya menciptakan siswa yang lebih tangguh secara fisik dan mental, tetapi juga menyuarakan perlunya perhatian serius terhadap ancaman bencana di semua tingkatan pendidikan.
Dengan menjadikan kesadaran bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari pembelajaran, P3B telah membuka jalan menuju generasi masa depan yang siap dan berani menghadapi tantangan alamiah yang tak terduga.












