MEMO, Tulungagung – Jeritan dunia pendidikan di daerah pinggiran kembali memuncak pada pembukaan Tahun Ajaran 2026/2027. Sebuah potret buram mendadak terpampang nyata di SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Lembaga pendidikan milik pemerintah ini terpaksa gigit jari setelah proses seleksi penerimaan murid baru ditutup dengan hasil yang sangat mengenaskan.
Hanya ada dua pasang kaki mungil yang mendaftar di kelas satu. Kondisi ini otomatis membuat iklim belajar-mengajar di sana terasa seperti les privat berbayar.
Usut punya usut, lesunya minat masyarakat menaruh anak mereka di tempat ini dipicu oleh serbuan kompetitor, baik dari sesama sekolah negeri maupun swasta yang lokasinya saling berdekatan.
Gempuran Isu Miring dan Lokasi Sekolah yang Terjepit
Kondisi diperparah oleh beredarnya kabar burung di kalangan emak-emak setempat yang menyebut tempat belajar ini sudah gulung tikar. Anggapan keliru tersebut telanjur menyebar luas dan menjadi biang kerok utama sepinya peminat.
Padahal aktivitas di dalam kelas masih berdenyut normal. “Tahun lalu kami juga dapat dua,” aku Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariyah, pasrah pada Senin (13/7/2026).
Kemerosotan jumlah anak didik sebetulnya bukan cerita baru lantaran sudah terdeteksi sejak sembilan tahun silam. Keberadaan gedung yang nyelip di belakang kantor desa membuat pandangan mata masyarakat kerap terlewat. Alhasil, total murid dari kelas satu sampai enam kini tersisa 16 anak saja.
Pengorbanan Guru ASN dari Gerilya hingga Potong Gaji
Modus Jemput Bola ke Rumah Warga
Para pengajar sebetulnya tidak tinggal diam meratapi nasib. Jauh sebelum pendaftaran dibuka, mereka sudah bergerilya dari rumah ke rumah untuk merayu para orang tua agar mau menitipkan anaknya.
Segala kemudahan dijanjikan demi menarik simpati warga. Sayangnya, strategi ketuk pintu ini tetap gagal mendongkrak kuota kelas secara masif.
Dana BOS Cekak, Kantong Pribadi Bertindak
Dampak paling fatal dari krisis murid ini berimbas langsung pada kucuran anggaran dari pemerintah pusat yang berbasis jumlah kepala. Anggaran operasional sekolah mendadak babak belur.
Guna menyiasati lubang kas yang menganga, para guru yang sudah berstatus abdi negara sepakat melakukan aksi heroik dengan iuran bulanan secara sukarela.
Uang hasil patungan dari kantong pribadi para pendidik ini sengaja dikumpulkan untuk membiayai kebutuhan harian sekolah. Tak hanya itu, dana patungan tersebut juga dialokasikan untuk membelikan pakaian seragam gratis, alat tulis, hingga modal tabungan awal bagi dua murid baru tersebut agar mereka tidak minder dengan sekolah lain.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












