Blitar, memo.co.id
Dua warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, harus dilarikan ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi setelah terperosok ke timbunan limbah blotong panas diduga berasal dari Pabrik Gula Rejoso Manis Indonesia (RMI), Rabu (30/9/2026).
Limbah blotong tebu adalah limbah padat hasil sisa penyaringan nira (cairan tebu) pada proses pembuatan gula di pabrik gula.
Keduanya, Gianto (53) dan Maryani (46), mengalami luka bakar sekitar 20 persen. Luka paling parah berada di bagian kaki setelah keduanya terperosok ke limbah yang disebut warga masih dalam kondisi panas dan mengalir hingga ke sekitar jalan serta lahan penduduk.
Peristiwa tersebut kembali membuka persoalan klasik di sekitar aktivitas pabrik: bagaimana limbah yang semestinya dikelola dengan baik justru disebut warga mengancam keselamatan masyarakat.
Informasi yang dihimpun, limbah blotong tersebut dibuang di kawasan timur masjid di Dusun Kedung Glagah, Desa Kaliwungu. Limbah kemudian mengalir ke arah jalan dan ladang milik warga.
Kedua korban disebut berupaya mengatasi aliran limbah agar tidak semakin meluas. Namun, kondisi limbah yang menyerupai abu sekaligus masih panas membuat keduanya kehilangan pijakan dan terperosok.
Teriakan minta tolong dari kedua korban sontak mengundang perhatian warga.
“Limbah mengalir seperti lahar panas. Begitu kedua korban berteriak minta tolong, warga langsung memberikan pertolongan,” ungkap Kusni, salah seorang warga.
Warga kemudian mengevakuasi kedua korban dan membawanya ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi untuk mendapatkan penanganan medis.
Persoalan ini memantik keresahan warga. Sebab, limbah dari aktivitas pabrik bukan kali pertama menjadi sorotan masyarakat sekitar. Kali ini, persoalannya bukan lagi sekadar soal lingkungan yang tercemar, tetapi sudah menyentuh keselamatan warga.
“Ini mana warga yang peduli lingkungan? Kalau limbah pabrik sampai mencemari lingkungan dan warga menjadi korban, lagi-lagi wong cilik yang menjadi korban,” timpal Sukiran, warga setempat.
Dua Korban Jalani Perawatan
Humas RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Ulfa Azizatuddiyanah, membenarkan adanya dua pasien yang mengalami luka bakar akibat kejadian tersebut.
“Iya benar, sekarang dirawat di Ngudi,” ujar Ulfa.
Menurutnya, kedua pasien terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan. Keduanya mengalami luka bakar sekitar 20 persen.
“Ada dua korban, laki-laki dan perempuan. Luka bakar 20 persen. Tadi sudah dilakukan perawatan luka bakar di kamar operasi, sekarang dirawat di ruang Bima,” jelasnya.
Ulfa menambahkan, luka bakar pada kedua pasien sebagian besar berada di bagian kaki.
“Sebagian besar luka bakar di kaki,” imbuhnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, pihak Pabrik Gula RMI belum memberikan keterangan terkait dugaan pembuangan limbah blotong tersebut.
Konfirmasi kepada pihak perusahaan masih terus diupayakan, terutama terkait prosedur pengelolaan dan pembuangan limbah, lokasi pembuangan, serta bagaimana limbah panas tersebut bisa mengalir hingga mendekati akses dan lahan warga.
Jika benar limbah panas tersebut berada di ruang yang dapat diakses masyarakat dan kemudian menyebabkan dua warga mengalami luka bakar, persoalan ini tentu tidak bisa berhenti sebatas insiden kecelakaan.
Sebab, ada keselamatan warga, ada lingkungan, dan ada tanggung jawab pengelolaan limbah yang perlu dijelaskan secara terang.(*)












