MEMO, Ponorogo – Hari pertama masuk sekolah yang mestinya ramai riuh mendadak sunyi senyap di SD Negeri Nailan, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Saat sekolah lain sibuk menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), lembaga pendidikan plat merah ini justru gigit jari.
Tak ada tawa bocah. Ruang kelas satu kosong melompong.
Zonasi dan persaingan ketat menjadi biang kerok utama. Kondisi memprihatinkan ini bukan yang pertama kali menimpa mereka.
Sisa Belasan Murid dan Kelas yang Kosong
Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi saksi bisu redupnya aktivitas di sekolah tersebut. Jangankan menggelar orientasi, murid baru yang mendaftar pun nihil.
Apesnya lagi, bangku kelas dua juga tidak berpenghuni. Berdasarkan data internal, total murid yang tersisa dari kelas tiga hingga enam kini hanya berjumlah 13 anak saja. Rinciannya, kelas enam diisi 7 siswa, kelas lima 2 siswa, kelas empat 1 siswa, dan kelas tiga dihuni 3 anak.
Pihak sekolah sendiri memilih bungkam seribu bahasa saat dimintai keterangan terkait sepinya pendaftar.
Terkepung Lembaga Pendidikan Alternatif
Misteri hilangnya minat warga akhirnya dibongkar oleh pihak pemerintah desa setempat. Kepala Desa Nailan, Nurhadi, membeberkan bahwa posisi geografis sekolah menjadi faktor pelemah utama karena letaknya yang “terkepung” oleh pondok pesantren dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN).
Warga setempat kini memiliki kebebasan memilih tempat belajar yang jaraknya amat dekat dari rumah. Alhasil, arus calon siswa terpecah ke berbagai arah mata angin, mulai dari wilayah Gondek di sisi selatan hingga kawasan Singkil di bagian utara.
Tren selera orang tua zaman sekarang juga sudah bergeser jauh. Masyarakat lebih memprioritaskan sekolah yang punya porsi “masalah keagamaan” yang kuat bagi anak-anak mereka.
Faktor inilah yang membuat MIN dan pesantren sekitar laris manis, sementara sekolah negeri makin babak belur kehabisan peminat.
Langkah Penyelamatan Desa yang Kandas
Aparat desa sebenarnya tidak tinggal diam melihat kemunduran ini. Strategi jemput bola sempat dilakoni dengan mengarahkan anak-anak usia dini dari playgroup agar masuk ke TK milik desa, dengan harapan mereka bakal melanjutkan ke SD Negeri Nailan.
Nahas, skenario tersebut patah di tengah jalan. Begitu lulus dari bangku TK, para wali murid kompak membelokkan arah dan meminta izin agar buah hati mereka disekolahkan “ke MIN aja” demi bekal agama yang lebih matang.
Kondisi diperparah oleh mini-nya potensi angka kelahiran di kawasan tersebut. Merujuk data Posyandu setempat, stok anak usia matang masuk sekolah dasar memang sangat langka, hanya berkisar di angka 6 sampai 7 anak saja untuk tahun ini.
Meski masa depannya abu-abu, pemerintah desa masih menaruh harapan besar agar sekolah ini tidak ditutup demi menjaga fasilitas pendidikan di tanah kelahiran mereka.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












