Saat disinggung sejumlah pertanyaan seputar perjalanan menuju candi Prambanan berapa kali ganti ban, kalau capek istirahat dan tidur dimana, dan bagaimana bisa menikmati perjalanan dengan jarak tempuh ratusan kilometer.
Dari rangkaian pertanyaan wartawan seperti itu dijawab oleh Mas HK dengan singkat lugas dan sedikit menggelitik dengan logat Jawa.
Baca Juga: Layanan RSD Kertosono Kembali Disorot, Dua Pasien BPJS Jadi Korban Keteledoran Tim Medis
” Mergo tekad kelawan tresno, kesele rogo ora diroso, adohe lurung ora di etong, kiro kiro filosofine ngono kui mas,” ucap Mas HK bermakna dalam.
Dalam perbincangan singkat dengan para awak media , ada pesan motivasi yang disampaikan Mas HK untuk para anak anak muda pecinta sepeda tua. Selagi bisa kenapa ditunda. Waktumu adalah catatan hidupmu, pergunakan selaras mungkin biar hidupmu penuh kesan.
” Setelah event Candi Prambanan , Klaten tercapai ada kemungkinan jika nanti ada even dunia misal diadakan di Candi Borobudur, di kawasan Jogja, atau bahkan sampai ke Pantai Parangtritis pun, saya tetap akan berangkat dan mengayuh sepeda tua saya ini sampai ke sana,” pungkas HK.
Untuk diinformasikan bahwa semangat, ketekunan, dan kecintaan beliau terhadap budaya sepeda tua ini menjadi bukti nyata bahwa kemauan dan semangat yang kuat akan selalu mengalahkan rasa lelah dan jarak yang jauh. Semoga semangat Heri Koko bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda penggemar sepeda tua. ( Adi)
Baca Juga: Terdidik Jiwa Nasionalis, SDP Jadi Denyut Nadi Wong Alit












