Menurut Imam, perjalanan yang ditempuh Mas HK dan Mas Don bukan sekadar aktivitas bersepeda biasa. Menempuh jarak jauh melintasi dua provinsi membutuhkan persiapan yang matang, kondisi fisik yang prima, ketahanan mental yang kuat, serta pemahaman mendalam mengenai rute dan kondisi jalan. Semua persiapan itu dijalankan dengan sangat baik hingga mereka tiba di tujuan dengan selamat, sehat, dan penuh kebanggaan.
“Bagi kami keluarga besar KOSTI Nganjuk, perjalanan Mas HK dan Mas Don menjadi teladan nyata. Hal ini mengajarkan bahwa hobi sepeda tua bukan hanya soal merawat benda antik, tetapi juga tentang menjaga semangat, ketekunan, dan keberanian berpetualang. Keduanya menjadi inspirasi, terutama bagi rekan-rekan yang mungkin merasa usia atau jarak tempuh adalah sebuah batasan,” tambah Imam.
Selain mengagumi ketangguhan fisik dan mental mereka, KOSTI Nganjuk juga sangat mengapresiasi dedikasi Mas HK dan Mas Don dalam merawat sepeda-sepeda tua buatan luar negeri tersebut. Meski sudah berusia puluhan tahun, sepeda-sepeda itu tetap terawat dengan sangat baik, kuat, dan andal diajak berjuang menempuh berbagai kondisi jalan sepanjang ratusan kilometer.
Kisah perjalanan Mas HK dan Mas Don dari Kertosono hingga Prambanan kini menjadi cerita yang dibanggakan dan terus disebarluaskan di kalangan seluruh anggota KOSTI. Mereka telah membuktikan satu hal penting: bahwa dengan semangat yang tinggi dan cinta mendalam pada hobi, jarak tempuh maupun usia bukan lagi halangan yang berarti. Semangat keduanya kini menjadi api semangat baru bagi seluruh anggota komunitas, agar terus aktif, berkarya, dan berpetualang lewat sepeda-sepeda tua kesayangan mereka.( Adi )
Baca Juga: Layanan RSD Kertosono Kembali Disorot, Dua Pasien BPJS Jadi Korban Keteledoran Tim Medis












