Namun, dana besar tersebut belum berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Dari total 248 koperasi yang telah disahkan, hanya empat koperasi yang saat ini benar-benar aktif beroperasi. Keempatnya berada di Desa Krenceng, Desa Pasirharjo, Desa Kebonagung, dan Desa Duren.
“Baru empat koperasi yang beroperasi, sebagian besar di sektor sembako. Di Kebonagung sudah mulai bergerak di simpan pinjam, sementara di Duren bergerak di bidang pertanian,” ungkap Sri Wahyuni, Selasa (22/7/2025).
Baca Juga: Didemo MAKI dan Aktivis, Pencalonan Eks Napi Korupsi Ketua KONI Kota Blitar Tuai Penolakan Keras
Lebih lanjut, Sri Wahyuni mengungkap bahwa tidak semua koperasi tersebut benar-benar baru. Beberapa di antaranya merupakan hasil pengembangan dari koperasi yang telah eksis sebelumnya, seperti Koperasi Merah Putih di Desa Kebonagung. Sementara koperasi di Desa Krenceng, dibentuk melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Rata-rata masih menggandeng BUMDes karena keterbatasan modal. Kami pun terus melakukan pendampingan. Setelah launching penuh, kami akan intensifkan koordinasi dengan Bulog, Pertamina, dan Pupuk Indonesia untuk mendukung percepatan operasional,” ujarnya.
Baca Juga: CV Lang Buana Kembangkan Benih Tebu Unggul untuk Dukung Swasembada Gula
Meski baru empat yang “hidup”, Dinas Koperasi dan UKM tetap optimistis bahwa 248 Koperasi Merah Putih ini akan berkembang dan membawa dampak besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa di Bumi Penataran.












