NGANJUK, MEMO – Di Kabupaten Nganjuk tepatnya berada di Dusun Lobeser Timur Desa/ Kecamatan Baron ternyata memiliki aset spiritual jawa ( peninggalan leluhur ) berupa punden tua yang dipridiksi sudah berumur mencapai ribuan tahun lamanya.
Oleh masyarakat sekitar , tempat yang diyakini memiliki daya kesakralan tingkat tinggi tersebut dijuluki dengan sebutan ” Punden Mbah Lumpang “.
Sebutan itu tentunya erat hubunganya dengan adanya batu kuno yang dibuat menyerupai lumpang yang ditempatkan di dalam cungkup ( tempat pemujaan) para kelompok penganut faham dinamisme/animisme ( waktu itu ) atau sebelum masuknya agama ke tanah Jawa.

Lumpang batu kuno tersebut konon seperti diungkapkan sebagian besar masyarakat setempat memiliki keajaiban dan keanehan di luar jangkauan akal sehat.
Yaitu , pernah beberapa kali lumpang batu kuno tersebut sengaja dicuri oleh tangan tangan jail . Namun anehnya benda sakral tersebut bisa kembali sendiri ke tempatnya semula tanpa campur tangan dari siapapun.
Dari kejadian itu akhirnya menambah keyakinan masyarakat waktu itu untuk menjadikan tempat itu sebagai punden desa.

Dan itu benar, setiap ada acara bersih desa atau hajatan pribadi, bisa dipastikan Punden Mbah Lumpang sampai sekarang dijadikan tempat tasyakuran atau kendurenan .
” Adat seperti itu sudah menjadi tradisi warga secara turun temurun. Sampai sekarangpun masih rutin berjalan tanpa merubah konsep sedikitpun.Yaitu tetap uri uri budaya leluhur,” ujar Bob Maryono warga setempat.
Selain muatan magis Punden Mbah Lumpang , ternyata ada sisi lain yang menambah nilai sejarah spiritual ditempat itu terkesan wingit. Yaitu persis di selatan cungkup Mbah Lumpang tumbuh satu buah pohon serut berukuran raksasa yang umurnya diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun.

Dari situ seperti digambarkan oleh salah satu pengamat budaya asal kota angin Nganjuk, Abah Gondrong bahwa keberadaan Punden Mbah Lumpang tersebut sudah ada sebelum agama masuk ke tanah Jawa. Atau masih era peradaban Jawa kuno (animisme).
” Itu bisa dilihat dari motif ukiran batu lumpang dan mahkota batunya. Dimungkinkan dibuat sebelum Masehi. Atau masih era jaman kerajaan,” produksi Abah Gondrong menjelaskan kepada para awak media saat usai melakukan ritual di punden Mbah Lumpang pada hari ini ( Sabtu,4/04/2026).
Ditanya gagasannya dengan keberadaan dan kondisi punden Mbah Lumpang yang terkesan tidak terawat ini , disampaikan Abah Gondrong sudah sepantasnya segera dilakukan renovasi dan penataan ruang di area punden.

” Bagaimanapun juga ini adalah warisan berharga yang sepatutnya untuk tetap dijaga dan di uri uri sampai kapanpun,” ujarnya juga.
Rencana renovasi seperti yang disampaikan Abah Gondrong yaitu memugar cungkup dan memasang keramik marmer serta memasang kain berwarna kuning di pohon serut.
” Tujuannya selain sebagai bentuk penghormatan dan adab kita terhadap leluhur, juga mengenalkan kepada generasi milineal bahwa nguri nguri budaya lokal bagian dari cinta kita pada budaya asli pribumi,” pungkasnya. ( Adi)
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












