Khoridatul masih mengingat percakapan terakhirnya dengan sang ayah. “Padahal hari Rabu saya masih sempat telepon bapak. Kamisnya saya gak telepon karena saya pikir masih aman. Tapi Jumat saya coba hubungi lagi, gak ada jawaban, ditelepon berkali-kali juga gak diangkat,” tuturnya, matanya menerawang.
Biasanya, sang ayah selalu sigap menelepon balik jika ada panggilan tak terjawab. Namun, kali ini, keheninganlah yang menjawab. Tak kunjung mendapat respons, Khoridatul akhirnya menghubungi ketua regu, yang kemudian mengarahkan ke ketua rombongan, Gus Fairus. Namun, jawaban yang datang pada pukul 20.00 WIB malam itu sungguh memilukan: Sukardi belum ditemukan.
Baca Juga: Cita-Cita Dokter di Tengah Gempuran Diabetes, Kisah Regina, Sang Pejuang Cilik dari Kediri
Pencarian Tanpa Henti dan Harapan yang Menggantung
Sejak saat itu, upaya pencarian pun digencarkan. Rombongan haji telah menyisir berbagai lokasi di Mekkah, termasuk rumah sakit-rumah sakit setempat dan bahkan tempat penampungan jemaah haji ilegal. Namun, hingga kini, semua usaha tersebut belum membuahkan hasil. Setiap sudut kota suci telah dijelajahi, namun Sukardi tetap belum bisa ditemukan.
Kisah hilangnya Sukardi menjadi pengingat pahit akan kerentanan yang bisa menimpa jemaah, terutama mereka yang mungkin memiliki kondisi khusus atau usia lanjut. Bagi keluarga di Kepanjen, setiap detik yang berlalu adalah penantian yang menyiksa. Doa dan harapan tak pernah putus, agar Sukardi segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali ke pelukan keluarga.
Baca Juga: Dari Keterbatasan Menuju Kampus Impian, Kisah Perjalanan Sunyi Igbal Rasyid, Sang Calon Dokter












