Example floating
Example floating
Jatim

Harapan Nyaris Padam: Sentuhan Kang Dedi dan Asa Baru Sang Gadis Cirebon yang Terjepit Kemiskinan

A. Daroini
×

Harapan Nyaris Padam: Sentuhan Kang Dedi dan Asa Baru Sang Gadis Cirebon yang Terjepit Kemiskinan

Sebarkan artikel ini
Ketika Harapan Nyaris Padam, Sentuhan Kang Dedi dan Asa Baru Sang Gadis Cirebon yang Terjepit Kemiskinan

Mendengar jerit hati yang nyaris tak terdengar ini, Kang Dedi tak tinggal diam. Ia segera mengutus ajudannya untuk menemui langsung keluarga dan gadis malang itu.

Tindakan nyata tak hanya berhenti di situ; Kang Dedi secara pribadi menanggung seluruh biaya pengobatan sang gadis di rumah sakit. “Pertama, rumah sakitnya sudah saya selesaikan seluruh biayanya,” tegasnya, seperti dilansir dari baliexpress.

Baca Juga: Penyidik KPK Kembali ke Ponorogo, Geledah Kantor Dinkes Ponorogo Selama 8 Jam

Namun, kepedulian Kang Dedi jauh melampaui sekadar biaya pengobatan. Ia mengumumkan sebuah langkah transformatif:

“Kedua, mulai besok anak itu menjadi anak asuh saya dan berhak untuk sekolah di sekolah negeri. Tentunya masuk sekolah negerinya harus melalui prosedur yang sama seperti anak-anak lainnya. Tapi saya bertanggung jawab penuh terhadap pendidikannya sampai tamat SMA.”

Baca Juga: Berjalan dari Bali, Puluhan Biksu Asia Tenggara Ziarah Makam Gus Dur di Tebuireng Jombang

Sebuah janji yang menghidupkan kembali nyala asa yang nyaris padam.

Lebih dari itu, Kang Dedi menyatakan komitmennya untuk terus mendukung gadis tersebut jika ia menunjukkan prestasi akademik dan memiliki keinginan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Ini adalah investasi pada masa depan, sebuah kepercayaan pada potensi seorang anak yang sempat terpinggirkan.

Baca Juga: JUMAT BERSIH SMPN 1 Grogol Libatkan Seluruh Warga Sekolah

Di akhir pesannya, Kang Dedi tak lupa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong, saling membantu, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang harus putus sekolah hanya karena masalah ekonomi.

“Semoga peristiwa serupa tidak terjadi lagi pada siapapun. Mari anak-anak kita sekolah minimal sampai SMA, dan mari kita gotong royong bersama agar orang yang miskin tetap bisa sekolah,” tutupnya, menyerukan kepedulian sosial yang lebih luas.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap data kemiskinan, ada kisah manusia yang menunggu uluran tangan dan harapan.