Menurut Hanta Yudha, dinamika elektoral di antara ketiga nama tersebut sangat kompetitif dan jaraknya sangat dekat. Bahkan, pernah saling saling posisinya.
Sebagai contoh, Anies Baswedan pernah menyalip posisi Prabowo Subianto, posisi Prabowo pernah menjadi posisi Ganjar Pranowo, dan seterusnya. Artinya, dinamika elektoralnya cukup kencang dan selisihnya juga tidak begitu jauh.
Karena kompetitif dan jaraknya sangat tipis, maka posisi cawapres sangat menentukan dan sangat penting. Cawapres harus tepat dan bisa menjadi bagian dari kemenangan karena ia bisa kontributif, tetapi juga bisa menggerus elektabilitas calon presiden.
Oleh karena itu, tingkat kerumitan tertinggi dalam koalisi adalah menentukan cawapres.
Baca Juga: Sekolah Negeri Dituntut Berinovasi di Tengah Persaingan dengan Lembaga Swasta
Hanta Yudha menambahkan bahwa Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto ketiga-tiganya punya apa stabilitas dalam konteks elektabilitas. Namun, ia menegaskan bahwa elektabilitas cawapres juga penting untuk meningkatkan elektabilitas capres.
Apakah faktor mengenai lobby politik yang cukup gencar dilakukan oleh kandidat lain juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada dinamika elektoral tersebut? Hanta Yudha menjawab bahwa setiap ada momentum politik,
Baca Juga: KPK Turun Langsung, Cek Proyek hingga Kumpulkan Pejabat Blitar Secara Tertutup












