Harli menyoroti bahwa pada tahun tersebut, Indonesia sebenarnya belum memerlukan laptop berbasis Chromebook secara masif. Alasannya, sistem operasi ini sangat bergantung pada ketersediaan internet. “Karena, kita tahu bahwa dia berbasis internet. Sementara, di Indonesia internetnya itu belum semua sama,” jelas Harli.
Ia menambahkan, saat itu, pihak Kemendikbudristek sebenarnya telah melakukan kajian dan uji coba terkait efektivitas penggunaan laptop berbasis Chromebook ini. Namun, dugaan adanya persekongkolan membuat proyek tersebut tetap berjalan meskipun hasilnya mungkin tidak optimal.
Baca Juga: Layangkan Somasi!!! Begini Pernyataan LSM GAP Terkait Proyek Pembangunan Syeh Wasil Kota Kediri












