Kediri, Memo – Dunia maya, dengan segala kemudahan aksesnya, telah menjadi medan baru bagi komunitas gay di Kediri, Nganjuk, dan sekitarnya untuk menemukan pasangan.
Sebuah akun Facebook bernama “Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya” kini menjadi sorotan, bukan hanya karena keterbukaan identitasnya sebagai kelompok gay, tetapi juga postingan-postingan anggotanya yang “menjurus”, mencari pasangan kencan dengan menggunakan kode-kode tertentu.
Fenomena ini, menurut pengakuan seorang anggota komunitas, telah mengubah pola interaksi dan hubungan mereka, dari komitmen jangka panjang menjadi gonta-ganti pasangan yang lebih didasari kebutuhan sesaat.
Kode Rahasia dan Ribuan Pengikut di Grup Publik
Sebagaimana dikutip Memo.co.id, melalui Radar JawaPos, akun Facebook “Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya” dengan mudah ditemukan oleh siapa pun yang berselancar di platform tersebut. Statusnya yang visible, alias dapat diakses publik tanpa perlu persetujuan admin, membuatnya menjadi wadah terbuka.
Baca Juga: Sidang Tipikor Kades Dadapan Final, Hakim Jatuhi Hukuman 2 Tahun Penjara
Jumlah anggotanya pun tak main-main, mencapai 3.500 akun yang mengikuti, menunjukkan skala jangkauan komunitas ini di ranah digital.
Yang membuat grup ini “mengerikan”, menurut pengamatan, adalah postingan para anggotanya. Mayoritas adalah ajakan mencari pasangan dengan kriteria yang sangat spesifik, mulai dari peran dalam hubungan, usia, hingga domisili. Ambil contoh, postingan “Cari T area Kandangan, Kepung, Puncu, Pare, dan sekitarnya“.
Baca Juga: Terbukti Korupsi, Kades Pojok Wates Dituntut 7 Tahun Penjara dan Denda Rp600 Juta
Seorang sumber yang mengaku paham seluk-beluk kelompok penyuka sesama jenis, sebut saja Sa, menjelaskan bahwa “T” adalah simbol dari top, mengacu pada peran seseorang sebagai “lelaki” atau dominan dalam hubungan sesama jenis.
Ada pula postingan yang lebih spesifik, seperti “Info B U20 area Kediri Selatan“. Sa kembali menjelaskan, “B” adalah simbol dari bottom, merujuk pada peran submisif atau “bawah” dalam hubungan seksual.
Sementara “U20” jelas-jelas menyiratkan target usia remaja di bawah 20 tahun. Penggunaan kode-kode ini menunjukkan adanya upaya untuk berkomunikasi secara terbuka di platform publik, namun dengan bahasa yang hanya dipahami oleh komunitas mereka.












