Kediri, Memo – Dunia maya, dengan segala kemudahan aksesnya, telah menjadi medan baru bagi komunitas gay di Kediri, Nganjuk, dan sekitarnya untuk menemukan pasangan.
Sebuah akun Facebook bernama “Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya” kini menjadi sorotan, bukan hanya karena keterbukaan identitasnya sebagai kelompok gay, tetapi juga postingan-postingan anggotanya yang “menjurus”, mencari pasangan kencan dengan menggunakan kode-kode tertentu.
Baca Juga: Tragedi Wanita Muda di Ngronggot Nganjuk Ditemukan Meninggal Dunia di Area Belakang Rumah
Fenomena ini, menurut pengakuan seorang anggota komunitas, telah mengubah pola interaksi dan hubungan mereka, dari komitmen jangka panjang menjadi gonta-ganti pasangan yang lebih didasari kebutuhan sesaat.
Kode Rahasia dan Ribuan Pengikut di Grup Publik
Sebagaimana dikutip Memo.co.id, melalui Radar JawaPos, akun Facebook “Gay Jaranan Kediri Nganjuk dan Sekitarnya” dengan mudah ditemukan oleh siapa pun yang berselancar di platform tersebut. Statusnya yang visible, alias dapat diakses publik tanpa perlu persetujuan admin, membuatnya menjadi wadah terbuka.
Jumlah anggotanya pun tak main-main, mencapai 3.500 akun yang mengikuti, menunjukkan skala jangkauan komunitas ini di ranah digital.
Yang membuat grup ini “mengerikan”, menurut pengamatan, adalah postingan para anggotanya. Mayoritas adalah ajakan mencari pasangan dengan kriteria yang sangat spesifik, mulai dari peran dalam hubungan, usia, hingga domisili. Ambil contoh, postingan “Cari T area Kandangan, Kepung, Puncu, Pare, dan sekitarnya“.
Baca Juga: Jelang Lebaran, 86 Lansia Miskin Di Kampungbaru Terima Bansos SARMUKO Dari TP - PKK Kabupaten
Seorang sumber yang mengaku paham seluk-beluk kelompok penyuka sesama jenis, sebut saja Sa, menjelaskan bahwa “T” adalah simbol dari top, mengacu pada peran seseorang sebagai “lelaki” atau dominan dalam hubungan sesama jenis.
Ada pula postingan yang lebih spesifik, seperti “Info B U20 area Kediri Selatan“. Sa kembali menjelaskan, “B” adalah simbol dari bottom, merujuk pada peran submisif atau “bawah” dalam hubungan seksual.
Sementara “U20” jelas-jelas menyiratkan target usia remaja di bawah 20 tahun. Penggunaan kode-kode ini menunjukkan adanya upaya untuk berkomunikasi secara terbuka di platform publik, namun dengan bahasa yang hanya dipahami oleh komunitas mereka.
Ketika Interaksi Bergeser ke Ranah Pribadi dan Transaksional
Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah interaksi ini bersifat transaksional atau murni suka sama suka? Inilah yang sulit ditelusuri.
Pasalnya, ketika percakapan mulai “menjurus” atau membahas hal-hal yang lebih intim, akun-akun tersebut akan mengalihkannya ke ranah privat, seperti pesan langsung (inbox) yang tidak dapat dilihat oleh anggota grup lain. Ini menyulitkan pihak luar untuk memverifikasi apakah ada praktik transaksi seksual di dalamnya.
Namun, beberapa indikasi muncul. Ada balasan postingan yang terang-terangan menawarkan “kos bebas jam-jaman”, dengan tarif yang spesifik: Rp 30 ribu per jam atau Rp 100 ribu semalam.
Contohnya, tawaran dari sebuah akun yang menyebutkan lokasi kos di area Baron, Nganjuk. Ini mengisyaratkan bahwa tidak semua interaksi terbatas pada pencarian hubungan romantis, melainkan juga ada potensi transaksi seksual.
Pergeseran Pola Hubungan di Era Medsos: Dari Monogami ke Gonta-Ganti Pasangan
Pa, seorang anggota komunitas gay berusia 40 tahun di Kota Kediri, mengakui bahwa media sosial, khususnya Facebook, telah mengubah secara drastis pola interaksi mereka. “Sekarang medsos terus, sudah nggak ngumpul (di satu lokasi),” aku Pa. Dulu, pertemuan fisik di lokasi-lokasi tertentu menjadi norma, kini semuanya beralih ke ranah digital.
Pergeseran ini, menurut Pa, juga ikut mengubah pola hubungan di kalangan “kaum pelangi”. Kemudahan mencari pasangan di media sosial memicu perilaku gonta-ganti pasangan. Ini berbeda dengan masa lalu, di mana banyak dari mereka justru memilih hubungan “monogami” atau setia dengan satu pasangan dalam jangka waktu lama.
“Medsos sudah seperti itu. Bilangnya setia tapi ternyata enggak,” dalih Pa, yang kini juga mengaku terpengaruh dan tak lagi terikat pada satu orang. Kemudahan akses ini, menurutnya, mendorong hubungan yang lebih didasari kebutuhan sesaat, bukan lagi komitmen jangka panjang.
Meskipun beradaptasi dengan tren ini, Pa tetap mengutamakan kesehatan seksual. Ia memilih untuk tetap berinteraksi dengan sesama anggota komunitas gay, namun dengan jalur yang lebih privat seperti grup WhatsApp, menghindari grup publik yang terlalu terbuka.
Pa mengakui bahwa grup komunikasi komunitas gay kini telah tersebar luas, tidak hanya skala kota atau kabupaten, melainkan juga skala nasional, dengan anggota dari berbagai daerah. Melalui media semacam ini, sangat mudah bagi anggotanya untuk bertemu satu sama lain, memperluas jaringan tanpa batas geografis.
Pentingnya berhubungan seks secara aman, dengan tetap menggunakan alat kontrasepsi, menjadi kebiasaan yang ia lakukan untuk mengantisipasi penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, sebagai bentuk tanggung jawab pribadi di tengah dinamika hubungan yang berubah. ( Red )












