Example floating
Example floating
Abata

Islamofobia dan Dakwah Ala Mohamed Salah di Masa Kini

A. Daroini
×

Islamofobia dan Dakwah Ala Mohamed Salah di Masa Kini

Sebarkan artikel ini
Islamofobia dan Dakwah Ala Mohamed Salah di Masa Kini

Memo.co.id | Islamofobia dan Dakwah Ala Mohamed Salah di Masa Kini|

Baca Juga: Panduan Ibadah Malam Nisfu Syaban 2026 Lengkap Jadwal Doa dan Amalan Sunnah

Sebuah riset dilakukan di Inggris untuk melihat keterkaitan antara fenomena Mohamed Salah atau yang lebih dikenal Mo Salah dengan menurunnya angka Islamfobia di negeri itu.

Hasil penelitian yang diberi tajuk “Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah on Islamophobic Behaviors and Attitudes (2019)”, menghasilkan kesimpulan yang menarik.

Baca Juga: Era Baru Ibadah Suci: UU PIHU 2025 Buka Pintu Umrah Mandiri, Didukung Platform Digital Canggih Arab Saudi

Disebutkan bahwa kejahatan rasial terkait Islamfobia di Marseyside, country di Inggris yang meliputi kota Liverpool, menurun 16 persen setelah Mo Salah bergabung dengan klub Liverpool FC.

Postingan tweet anti-muslim oleh para penggemar Liverpool FC jauh lebih rendah dari klub-klub lainya, yang diperkirakan bagian dari efek Mo Salah.

Baca Juga: Saat Dentuman "Horeg" Mengusik Ketenangan dan Mengundang Fatwa MUI Jatim

Tak hanya itu, fenomena Mo Salah juga membuat ketertarikan publik Inggris pada Islam meningkat. Bahkan, salah satu kalimat dalam yel-yel klub sepak bola itu yang terkenal adalah, “If he scores another few then I’ll be Muslim too” – Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim.”

Bukan suatu kebetulan bahwa Mo Salah adalah orang Mesir. Ada fenomena menarik terkait kehadiran Islam di Mesir yang dihantarkan oleh Sang Panglima Amru bin Ash.

Sebelum Islam datang, Mesir telah memiliki peradaban yang luar biasa. Negeri kaya, penduduknya makmur dan kemajuan teknologinya spektakuler untuk ukuran zamannya.

Mereka bahkan telah menguasai teknologi hidrolik yang kita kenal sekarang untuk membuka pintu piramida secara otomatis, yang kemudian dikenal sebagai jebakan piramida.