“IPK memang penting, itu tidak bisa dimungkiri. Tapi, itu bukan segalanya,” tukas Prof. Tuti. Ia menekankan bahwa kompetensi riil, pengalaman berorganisasi, dan kontribusi di luar kelas adalah aspek-aspek krusial yang kerap terpinggirkan dalam sistem penilaian saat ini. Pendidikan seharusnya menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga adaptif, inovatif, dan berdaya saing.
Melihat kondisi ini, Prof. Tuti mengusulkan perlunya sistem penilaian yang lebih menyeluruh. Sebuah sistem yang mampu menangkap performa mahasiswa secara utuh, tidak hanya dari hasil ujian, tetapi juga dari proyek nyata, partisipasi aktif, dan kemampuan soft skill yang berkembang selama masa studi. Ini akan menjadi langkah penting untuk mengakhiri paradoks inflasi IPK tanpa peningkatan kualitas.
Ia juga menegaskan keyakinannya terhadap integritas dosen. “Selama mahasiswa menunjukkan kemampuan dan usaha, dosen pasti akan menilai secara adil,” katanya. Namun, Prof. Tuti juga melempar tantangan balik kepada para mahasiswa: buktikan bahwa IPK tinggi Anda memang sepadan dengan kualitas dan kapabilitas asli yang Anda miliki. Sebab, pada akhirnya, dunia nyata akan menuntut lebih dari sekadar angka di atas kertas. (Ferdi)












