Ssampang, Memo
Warga Desa Tragih, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, menghadapi tantangan berat di musim kemarau. Harga air tangki yang melambung tinggi, mencapai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu untuk kapasitas 6.000 liter, memaksa mereka mencari solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Sebagai upaya bertahan hidup, banyak warga berinisiatif menggali sumur di pinggir sungai. Ruddin, salah satu warga, mengatakan bahwa sumur-sumur sederhana ini menjadi penyelamat.
“Banyak warga yang tidak sanggup untuk membeli air bersih, sehingga mereka membuat sumur di tepi sungai dengan harapan mendapatkan air bersih,” ujarnya pada Kamis (28/8/2025).
Lubang sedalam satu meter itu perlahan terisi air jernih, yang bisa digunakan untuk mandi, mencuci, dan memasak. Meski demikian, cara ini tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah. Warga tetap khawatir jika musim kemarau terus memanjang dan air sungai benar-benar kering, mereka terpaksa kembali membeli air tangki yang mahal.
Pemerintah Siapkan Anggaran, Kekeringan Melanda Puluhan Desa
Menanggapi kondisi ini, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sampang, Candra Romadoni Amin, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan anggaran sebesar Rp150 juta untuk penanganan kekeringan. Data terbaru menunjukkan bahwa dari 14 kecamatan di Sampang, sebanyak 95 desa telah terdampak kekeringan.
Dari jumlah tersebut, 77 desa termasuk dalam kategori kekeringan kritis, 6 desa mengalami kekeringan langka, dan 12 desa berada dalam kategori langka terbatas. Warga berharap, perhatian dari pemerintah dapat segera terwujud dalam bentuk bantuan air bersih, untuk meringankan beban biaya yang mereka tanggung di tengah kondisi sulit ini.












