Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
Peristiwa

Dampak Kebakaran Permukiman Padat Kebon Kosong Kemayoran Menghanguskan Ratusan Rumah Warga

A. Daroini
×

Dampak Kebakaran Permukiman Padat Kebon Kosong Kemayoran Menghanguskan Ratusan Rumah Warga

Sebarkan artikel ini
kebakaran hebat di kemayoran jakarta

MEMO, Jakarta – Dampak kebakaran permukiman padat Kebon Kosong Kemayoran yang berkobar pada Senin (1/6/2026) malam menyisakan duka mendalam setelah menghanguskan sekitar 250 rumah warga dan memaksa 330 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal mereka dalam sekejap.

Kobaran api yang sangat besar dilaporkan mulai mengamuk sekitar pukul 20.55 WIB di kawasan padat Kampung Pasar Haji Ung, Jalan Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat.

Baca Juga: YAKUZA MANEGES Den Gus Thuba dengan Tokoh Ormas / LSM Besar di Indonesia Gelar Pertemuan Tertutup Tempati Ruang Khusus Kasatreskrim Polrestabes Surabaya

Nestapa Ratusan Keluarga di Pengungsian Lapangan Jusuf Hamka

Pemerintah bergerak cepat dengan memusatkan seluruh penanganan dan bantuan logistik darurat untuk para korban di satu titik aman.

Kini, Lapangan Jusuf Hamka yang terletak di Jalan Benyamin Suaeb resmi disulap menjadi posko pengungsian utama bagi ratusan warga yang terdampak.

Baca Juga: H+2 Lebaran, Meski Ramai dan Padat Situasi Jalan Doho Termasuk Stasiun KA Kediri Tetap Lancar, Begini Penjelasan Polisi

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa pendataan mendalam saat ini terus berjalan di lokasi.

“Tempat pengungsian sementara disiapkan agar warga tidak berkumpul di jalan dan bisa beristirahat, beserta dengan logistik yang disiapkan BPBD bekerja sama dengan Dinas Sosial, PMI, dan Baznas,” jelas Safrizal.

Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum

Proses evakuasi difokuskan pada dua wilayah, yaitu RW 04 yang mencakup lima RT, serta RW 05 yang meliputi tiga RT.

Tiga tenda raksasa dari Dinas Sosial DKI Jakarta bersama deretan armada logistik kini sudah bersiaga penuh untuk menyuplai kebutuhan harian pengungsi.

Skema Relokasi dan Jaminan Pendidikan Anak Usia Sekolah

Pemerintah tidak hanya fokus pada bantuan makanan, melainkan juga mulai mendata masa depan anak-anak korban kebakaran.

Safrizal menyebutkan bahwa data anak usia sekolah menjadi prioritas agar kegiatan belajar mereka tidak terputus pascabencana.

Setelah masa tanggap darurat selesai, rencana pemulihan jangka panjang termasuk tata ruang wilayah akan segera dibahas bersama.

“Nanti setelah semua kedaruratan ini selesai baru kita diskusikan seperti apa proses bagi warga masyarakat termasuk kemungkinan-kemungkinan kalau masyarakat ingin relokasi di tempat hunian yang lebih aman,” kata Safrizal.

Perjuangan 165 Personel Damkar Taklukkan Kobaran Api

Guna memadamkan api yang cepat merembet di area padat tersebut, Dinas Gulkarmat DKI Jakarta menerjunkan kekuatan penuh ke lapangan.

Sebanyak 35 unit mobil pemadam kebakaran bersama 165 personel tangguh baku hantam dengan api selama berjam-jam.

Dugaan sementara, amukan si jago merah dipicu oleh adanya hubungan arus pendek atau korsleting listrik dari salah satu rumah.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara, mensyukuri proses pemadaman yang didukung oleh ketersediaan air yang melimpah.

“Alhamdulillah sumber air cukup,” ujar Bayu singkat saat dikonfirmasi mengenai kendala di lapangan.

Bayu juga memastikan tim medis bergerak cepat mengevakuasi sejumlah warga yang mengalami sesak napas dan luka-luka ke rumah sakit terdekat.

“Memang ada beberapa warga masyarakat yang dibawa ke rumah sakit itu karena luka ringan dan sesak karena asap,” lanjut Bayu.

Kisah Pilu Warga Hadapi Kepanikan Luar Biasa

Saat api mulai membesar dan meluas, kepanikan luar biasa pecah di sepanjang gang sempit pemukiman Kemayoran tersebut.

Ratusan warga berlarian menyelamatkan barang berharga seadanya ke arah Lapangan Jusuf Hamka di tengah kepulan asap hitam.

Supriatin, seorang warga yang juga menjabat sebagai Sekretaris Gabungan RT 12 hingga 16 di RW 04, membagikan momen mencekam yang dialaminya.

“Saya baru pulang ngojek, apinya sudah besar. Saya panik karena istri saya sedang sakit di rumah,” ungkap Supriatin emosional.

Beruntung, meski sang istri sempat mengalami sesak napas berat akibat kepungan asap, ia berhasil mengevakuasi seluruh anggota keluarganya dengan selamat.

Kini, Supriatin dan ratusan warga lainnya hanya bisa pasrah menanti uluran tangan di tenda darurat sembari menatap puing-puing rumah mereka yang telah rata dengan tanah.