Data Investigasi menunjukkan bahwa mantan Kepala Desa Umbuldamar sebelumnya, yang menjabat selama periode awal proyek, diketahui tersangkut dan telah divonis bersalah dalam kasus korupsi penyalahgunaan Dana Desa. Kasus ini terjadi sebelum dan selama pembangunan Damar Waterpark bergulir.
“Bagaimana masyarakat tidak curiga? Kades yang memimpin awal proyeknya terjerat korupsi DD, lalu proyek yang ia kerjakan bersama timnya kini ambruk. Ini sinyal kuat bahwa kultur rasuah telah merusak kualitas pembangunan dari akar rumput,” lanjutnya.
Baca Juga: KA Dhoho Vs Truk Pasir: Tabrakan Keras Gegerkan Warga Gedog Blitar
Alih-alih mengakui kelemahan konstruksi yang didanai rakyat, Sekretaris Desa Maruwan justru mengeluarkan dalih yang terdengar klise. Ia bersikeras menampik dugaan kegagalan teknis.
“Ambruknya dinding penyangga itu murni disebabkan bencana tanah longsor. Bukan karena kualitasnya jelek,” bela Maruwan.
Baca Juga: Instruksi Megawati Ditegaskan di Blitar, Kader Diminta Turun Langsung Rangkul Generasi Muda
Namun, pembelaan tersebut dinilai tidak kredibel. Apabila lokasi proyek memang rawan longsor, pengamat konstruksi mempertanyakan, mengapa tim pelaksana proyek tidak menggunakan spesifikasi teknis yang memadai dan struktur penyangga yang jauh lebih kokoh? Dalih “bencana alam” seringkali menjadi tabir asap yang dipakai untuk menutupi dugaan pengerjaan fiktif, mark-up anggaran, atau bahan baku yang tak sesuai standar.
Kegagalan total Damar Waterpark adalah tamparan keras bagi pengawasan Dana Desa. Pihak berwenang dituntut segera melakukan audit forensik dan investigasi mendalam terhadap seluruh mata anggaran DD 2018 dan 2019 yang dialokasikan untuk pembangunan wisata ini. Masyarakat menuntut kejelasan: apakah uang rakyat benar-benar lenyap karena longsor, atau justru karena dikorupsi?
Baca Juga: Terbongkar! “Kenyamanan Khusus” di Lapas Blitar Dijual Rp60 Juta, Siapa Bermain?












